ahaha.. Lama tampaknya tidak gw tengok gw punya blog ini rupanya hehe. Gak terasa sekarang sudah tiga minggu di Jakarta, dan terakhir gw ngupdate blog gw ini di pekan gw tinggal di Makassar. Well, motivasi gw nulis blog malam ini sebetulnya pengen sharing aja apa yang gw pikirin selama beberapa pekan kepulangan gw di rumah ini lagi.
Sampai dan pulang kembali kerumah dengan seberkas ijazah, hmm.. Tampaknya memang seseorang dalam menentukan langkah hidupnya tidak hanya sekedar mengerjakan dan melewatkan waktu secara formalitas aja, tapi perlu yang dinamakan visi yang cermat. Ya, memang semenjak kelulusan gw beberapa bulan lalu sebagai sarjana hukum gw di gelayuti (apalah ini bahasanya) dengan kegundahan, akan kemana kaki ini melangkah.
Tiga pekan sudah gw melewatkan waktu dengan terus berfikir, berfikir jauh tanpa berani melangkah, melangkah kemana? harusnya melangkah kepada sebuah keputusan, mau jadi apa gw selanjutnya. Tentunya keputusan ini bukanlah sebuah keputusan yang bisa gw ambil dengan sendirinya, perlu adanya dukungan dan dorongan moral dan doa dari orang tua. Sejatinya sebagai seorang sarjana hukum sudah seyogyanya dengan mudah gw bisa menentukan pilihan untuk bisa menjadi seorang praktisi hukum. Ya, bisa jadi hakim, jaksa, ataupun pengacara.
Jadi masalahnya dimana? apa sulitnya menentukan pilihan dan mulai melangkah? Sulitnya adalah ketika gw masih ragu, apakah gw cukup siap untuk memulai kepada sebuah rutinitas baru, rutinitas formal yang menuntut professionalisme tinggi, pakaian berdasi, rambut tercukur rapi. Sebetulnya ini bukan sebuah masalah, hanya saja masalahnya adalah kapan gw akan melangkah keluar dari "green zone" gw saat ini dan mencapai turning point dimana gw akan memulai karir gw pada sebuah tempat.
Dan gw rasa waktu terus berjalan dengan begitu cepat meninggalkan gw dengan pikiran dan pikiran yang terus dipikirkan tanpa membuat sebuah lompatan besar dalam hidup gw. Dengan tulisan ini gw cuma mau merefleksikan diri, sudah waktunya untuk melakukan langkah konkrit, dimulai dari akhir dari tulisan ini.
Wasalam. Ciao :D
Sampai dan pulang kembali kerumah dengan seberkas ijazah, hmm.. Tampaknya memang seseorang dalam menentukan langkah hidupnya tidak hanya sekedar mengerjakan dan melewatkan waktu secara formalitas aja, tapi perlu yang dinamakan visi yang cermat. Ya, memang semenjak kelulusan gw beberapa bulan lalu sebagai sarjana hukum gw di gelayuti (apalah ini bahasanya) dengan kegundahan, akan kemana kaki ini melangkah.
Tiga pekan sudah gw melewatkan waktu dengan terus berfikir, berfikir jauh tanpa berani melangkah, melangkah kemana? harusnya melangkah kepada sebuah keputusan, mau jadi apa gw selanjutnya. Tentunya keputusan ini bukanlah sebuah keputusan yang bisa gw ambil dengan sendirinya, perlu adanya dukungan dan dorongan moral dan doa dari orang tua. Sejatinya sebagai seorang sarjana hukum sudah seyogyanya dengan mudah gw bisa menentukan pilihan untuk bisa menjadi seorang praktisi hukum. Ya, bisa jadi hakim, jaksa, ataupun pengacara.
Jadi masalahnya dimana? apa sulitnya menentukan pilihan dan mulai melangkah? Sulitnya adalah ketika gw masih ragu, apakah gw cukup siap untuk memulai kepada sebuah rutinitas baru, rutinitas formal yang menuntut professionalisme tinggi, pakaian berdasi, rambut tercukur rapi. Sebetulnya ini bukan sebuah masalah, hanya saja masalahnya adalah kapan gw akan melangkah keluar dari "green zone" gw saat ini dan mencapai turning point dimana gw akan memulai karir gw pada sebuah tempat.
Dan gw rasa waktu terus berjalan dengan begitu cepat meninggalkan gw dengan pikiran dan pikiran yang terus dipikirkan tanpa membuat sebuah lompatan besar dalam hidup gw. Dengan tulisan ini gw cuma mau merefleksikan diri, sudah waktunya untuk melakukan langkah konkrit, dimulai dari akhir dari tulisan ini.
Wasalam. Ciao :D