
Kadang ketika kita berfikir, apa arti hidup ini, dan untuk apa tujuan kita diciptakan oleh Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan yang seperti ini kadang terlintas di benak gw. Orang bilang hidup itu tujuan nya adalah untuk bisa menjadi orang yang berguna, orang yang bermanfaat orang yang begini, orang yang begitu, jadi orang dan bla bla bla. Terus orang yang telah mencapai cita-citanya atau tujuan hidupnya yang berbeda-beda itu bisa dikatakan orang yang sempurna?
Di HMI gw sering denger orang bilang atau liat orang nulis di spanduk tema acara kegiatan, tentang suatu kata yang disebut, Manusia yang Sempurna atau dalam bahasa lainnya yang sering juga gw liat adalah Insan Kamil. Makna dari kata-kata ini yang kadang gw gak ngerti ngebawa gw untuk merefresh otak gw yang pas-pas-an ini untuk mengingat kajian-kajian yang pernah gw pelajari selama ber-HMI juga hal-hal yang pernah gw baca sebelum nya.
Berbicara mengenai manusia, baik itu manusia sempurna atau manusia-manusia lainnya (apa sih maksudnya!? -_-) tentu tidak lepas dari perbincangan seputar ciptaan dan pencipta. Yaitu manusia sebagai ciptaan dan Tuhan sebagai pencipta nya. Berbicara hal tersebut ketika kita ingin menjabarkan tentang konsep spesifik tentang manusia sempurna ini merujuk akan bagaimana konsep sang penciptanya itu sendiri, konsep disini tentang ke-Ada-an, dan Ke-Apa-an Tuhan.
Dalam bahasa yang sederhana yang gw berusaha untuk jabarkan, bahwa sejauh yang gw tau Tuhan itu secara ke-Ada-an atau secara eksistensi adalah satu atau esa, namun secara secara esensi (kalo gw gak salah) jumlahnya sangat banyak, untuk memahami ke-eksistensi-an Tuhan kita bisa memahami dengan ada nya ciptaan. Ciptaan merupakan tajali-tajali nya Tuhan atau merupakan manifestasi Tuhan.
Manifestasi Tuhan ini lah yang dapat kita lihat di dunia, termasuk diri kita sendiri merupakan tajaliyah Nya. Menurut pemahaman gw yang masih standart ini, manifestasi ini mungkin berupa cerminan untuk memahami eksistensi Nya, dimana semakin jernih cermin tersebut maka semakin jernih pula merefleksikan eksistensi dan esensi Nya.
Dalam kajian Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI bab 4 tentang Manusia dan Nilai-nilai Kemanusiaan, secara garis besar yang bisa gw pahami adalah bahwa manusia sebagai insan bukan sekedar basyar (jasad/fisik semata tapi merujuk kepada kerohaniannya) merupakaan ciptaan yang paling sempurna dimana manusia memiliki tingkatan-tingkatan jiwa yang lebih tinggi dari ciptaan Tuhan yang lain seperti hewan ataupun tumbuhan. Nah kesempurnaan manusia ini capai ketika manusia melakukan gerak dengan mengaktualisasikan potensi diri sebagai ciptaan yang paling sempurna menjadi sebuah output yang aktual berupa sikap tindak yang mencapai tingkatan sehingga manusia tersebut dikatakan sempura.
Karena dalam setiap ciptaan merupakan tempat atau wadah bagi Tuhan untuk menampakan diri Nya, maka bagi manusia yang mampu mencapai tingkat kesempurnaan Insan mampu untuk merefleksikan nilai-nilai dan sifat-sifat Ketuhanan. Adapun Intensitas perefleksian nilai-nilai dan sifat-sifat Tuhan pada masing-masing makhluk berbeda-beda dan bergantung dengan ikhtiar setiap diri untuk menerima refleksi keTuhanan.
Adapun manusia sempurna di dunia ini tentunya Nabi Muhammad SAWW (Salallahu wa alayhi wa Ali wa Salam) yang derajat spiritualnya tertinggi dibanding kaum muslim manapun. Namun manusia yang berusaha dan ber-Ikhtiar sehingga mencapai tingkat ketawkaan dan keimanan yang tinggi akan mampu untuk mencapai tingkat Insan Kamil (Manusia Sempurna) yang tingkatan nya berada dibawah Nabi Muhammad SAWW dan para Imam Ahlul Bayt.
Semoga gw termasuk dalam golongan yang mampu untuk mencapai hal tersebut, Amin Amin ya Rabbal Al amin. Allahuma Shali ala Muhammad wa Ali Muhammad.
Catatan
Apabila ada kesalahan dalam tulisan ini, maka datang nya dari keterbatasan pengetahuan saya, dan kebenaran hanya milik Allah SWT semata, semoga Ia selalu melimpahkan rahmat pada orang-orang yang telah memberikan ku pencerahan (walaupun tampak nya saya belum cerah-cerah amat nih -_-).