Pages

Thursday, February 22, 2007

What Should We Do?

Belakangan memang cuaca sedang kurang bersahabat. Kalau memang memungkinkan, sebaiknya hindari bepergian terlalu jauh. Kalaupun harus, saran gw, pilihlah maskapai yang bagus atau maskapai yang lo rasa memiliki pengalaman baik selama ini. Jangan pertaruhkan nyawa demi selembar tiket murah. Kalau bisa, pilih pesawat yang relatif baru, karena biaya maintenance lebih kecil dari pesawat lama dan kondisinya juga lebih baik. Ada maskapai yang dengan jujur membeberkan kondisi/umur pesawat yang akan lo tumpangin.

Juga, nggak ada salahnya untuk mempelajari dan menghitung tiket/rute perjalanan yang akan lo ambil. Misal, JKT-MDN dan SBY-MDC mungkin sama jauhnya, tetapi sangat berbeda karakteristiknya. JKT-MDN mudah dilalui dengan terbang lurus menyusuri garis pantai. Sementara SBY-MDC tidak bisa diambil langsung, melainkan harus sedikit berbelok ke kawasan Makassar, baru kemudian membelah Sulawesi sehingga perjalanan yang ditempuh lebih panjang.

Dan terakhir, hidup dan mati kita tetap kuasa Tuhan di atas. Jadi, kenapa kita tidak mencoba untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya? Gw sendiri juga lagi berusaha mendekatkan diri kepada-Nya.

Keselamatan Di Udara

Ini sekedar info aja ya, bukanya sok tau gitu, Jadi pernah ada penelitian yang menunjukkan bahwa lebih dari 70% kecelakaan disebabkan oleh human factor (pilot error) dan 90% dari jumlah tersebut terjadi saat take off dan landing dalam keadaan cuaca buruk (hujan badai, windshear, downburst, dst) — karena pada saat take off dan landing tersebut terjadi pembebanan yang lebih besar dibanding saat cruise flight.

Operator yang memotong harga terlalu banyak, terutama cutting engineering and maintaining cost agar harga semakin murah dan competitive adalah sumber dari segala sumber masalah. Apalagi operator juga sering bandel. Lebih parah lagi, regulatory body juga terkesan kurang tegas dan independen.

Namun, kondisi airport yang kurang memadai dan kekurangan sistem navigasi serta komunikasi juga sebenarnya menjadi persoalan besar. Apalagi airport juga dituding cukup rawan korupsi dan penyalahgunaan, sehingga banyak safety procedure yang tidak dijalankan dengan benar.

Kondisi landasan juga perlu ditinjau lagi. Banyak airport yang memiliki desain runway kurang baik. Ketika terjadi hujan, alih-alih membuang air, runway justru menjadi pusat genangan air. Akibatnya, terjadi aquaplanning yang sangat membahayakan. Karenanya, runway juga perlu dikalibrasi ulang. Bukan hanya kekuatan atau kepadatan material, tetapi juga drainase dalam membuang air dan mencegah banjir.

Belum lagi soal behavior kita. Ketika cuaca buruk terjadi, pilot lebih memaksakan potong kompas dan jalan terus, bukannya divert ke airport alternatif atau return to base (RTB). Sama juga dengan kita sebagai penumpang. Kadang kita ngotot membawa terlalu banyak bawaan di kabin supaya tidak kena bagasi. Belum lagi kita sering tergesa-gesa menyalakan ponsel ketika pesawat masih berada di runway. Repotnya kalau sudah bicara soal manusia, mentalitas individu dan reputasi seseorang susah dipegang.

Kalau sudah begini, jangan harap airlines Indonesia bisa maju. Meski maskapai memborong pesawat - pesawat yang (benar-benar) baru, atau regulatory body melakukan reformasi, apa boleh buat, reputasi mereka sudah jatuh terlalu jauh.

Terbang Bersama Adam Air

Masih inget kan sama kejadian – kejadian yang menimpa Adam Air? Ngomong – ngomong gw juga pernah naek Adam Air, dan kayaknya kali itu gw lumayan beruntung yang jelas nyampe lah di tujuan nya. Gak nyangsang kemana rimbanya kayak PK-KKW.

Boarding di Bandara Cengkareng jam 10. Pesawat Adam-Air, terminal B2. Jadwal Take-off jam 11.30.

Boarding pass nomer 25 Tempat duduk bernomer 25, untuk pesawat jet Boieng 737, itu berarti gwrsi paling belakang. Jika ada nomer 26, pastilah kursi itu sudah berada di dalam toilet. Sodara gw sempat bilang, “wah, bakal berisik nih”.

Masuk kabin, kami berlima dengan sekitar 10 tas dan bawaan yang dibawa masuk. Termasuk airsoftgun yang karena nggak ada lagi tempat, terpaksa diletakkan di bawah kaki gw. Duduk di kursi belakang sungguh nggak menyenangkan, diperparah lagi dengan nggak adanya lubang jendela di sebelah. Untunglah gw duduk di sisi gang, dimana pramugari lalu lalang hilir mudik. Nggak ada yang spesial, semua biasa saja, tapi lumayanlah buat pengusir bosan.

Pesawat take off. Sodara gw benar - benar sangat berisik buanget. Bahkan susah untuk sekedar ngobrol.

Setelah hampir 2 jam take off, rasa bosan berganti rasa kantuk yang amat tuk tuk tuk. Sebenarnya gw nggak tahu sudah berapa lama, handphone sebagai petunjuk waktu dimatikan karma disuruh sama pramugari nya, yang jelas sudah terasa lama sekali. Rombongan gw sudah terlelap semua, gw gak bisa memejamkan mata, jadi kembali ke rasa bosan yang teramat sangat dasyat. Berbagai macam cara sudah dicoba, baca kompas, baca koran tempo, baca FHM, bahkan makan pisang goreng bawaan dari rumah, tapi tetap saja bosan. Pramugari tetap hilir mudik: mengantarkan makanan, mengambil sampah (bukan si *k**u ya teman – teman), dan menjajakan dagangan (souvenir). Tapi mungkin karena gw tipe pria yang bodo amatan, gw nggak begitu memperhatikan mereka seperti halnya ketika baru masuk kabin. Berita mogok kerja karyawan PT. Kereta Api di Koran Tempo dan foto - foto Karen Price di majalah lebih menarik perhatian gw.

Tiba-tiba ada pengumuman dari ruang kemudi, seperti biasa suara pilot nggak terdengar jelas. Para penumpang terjaga dari tidurnya, “Wah, udah hampir sampai nih,” pikir gw. Ternyata salah, pilot malah keluar dari ruang kemudi dan memegang mic menghadap penumpang. Tak disangka - sangka, pilot memberikan kuis kecil - kecilan, katanya untuk hiburan ala kadarnya. Peraturannya sederhana: pilot bertanya, penumpang menjawab, penumpang benar, dapat hadiah.

Pertanyaan pertama dan kedua begitu mudah, apalagi bagi penggemar milis seperti gw. Tapi metode “ngacung if you know the answer” membuat gw susah mendapat bagian menjawab, sekali lagi karena tempat duduk yang di ujung belakang. Giliran pertanyaan ketiga, “apa perbedaan profesor teknik dan profesor sejarah?”, tetap sambil membaca koran angkat tangan kanan gw. Lah, ternyata satu kabin yang angkat tangan cuma gw. Pramugari-pramugari menyambut gw dan membimbing gw (halah) ke depan, ke arah pilot yang berulang-ulang bilang “wah, masih SMA nih kayaknya, ganteng sekali, ayo silahkan maju kesini…”

Jam gratisan dari Adam Air Jawabannya jelas, profesor teknik botak di depan, profesor sejarah botak di belakang. Seharusnya semua orang tahu teka-teki basbangnyol (basi banget dan konyol) itu. Intinya, gw mendapatkan jam dinding Adam Air sebagai souvenir. Sebenarnya pas penyerahan hadiah gw minta cium pramugari, biar kayak di tivi-tivi. Tetapi mungkin karena faktor asusila, wanita-wanita itu dengan sekuat tenaga berusaha menolak dengan sopan. Nggak apa-apa, sudah biasa, bukan rejeki namanya. Tapi seenggaknya di tengah carut marut Adam Air gw sempet lah dapet untung nya.



Wednesday, February 21, 2007

Usia dan Risiko Pesawat

Hari ini gw nonton tv dan gw melihat berita tergelincirnya Pesawat Adam Air di surabaya. Dari hal tersebut gw jadi terinspirasi buat berbagi informasi dengan teman - teman semua, yang tentunya akan berguna banyak.

Rata-rata umur pesawat yang beroperasi di Indonesia sudah di atas 17 tahun — kecuali Garuda Indonesia yang rata-rata umur armadanya hanya 10 tahun. Pesawat Adam Air sendiri rata-rata berumur 18,1 tahun, kecuali sebuah pesawat berusia kurang dari 10 tahun khusus untuk melayani rute Singapura.

Dalam suatu penerbangan, risiko sebenarnya terkait dengan person, behavior, dan environment. Celakanya, behavior sering menjadi aspek yang justru diabaikan. Kalau disiplin demikian diabaikan, akan menimbulkan minor injury — yang sama artinya dengan membuka pintu kecelakaan.

Memang, faktor usia menyumbang salah-satu risiko kecelakaan. Namun, maintenance juga berperan penting. Mayoritas aircraft di Indonesia memang cukup tua — yang berarti lower ownership cost, but higher maintenance cost. Kalau operator tidak patuh pada regulatory requirement, maka aircraft age + bad behavior menjadi penyebab kecelakaan terbesar.

Memang benar bahwa Delta, SAS, dan American Airlines bahkan menggunakan DC-9 yang berusia lebih dari 20 tahun — sampai Eropa melarang pesawat dengan noise stage-2. Namun, pesawat-pesawat tersebut diperlakukan dengan sangat baik. Northwest Airlines pernah membawa kembali DC-9 yang melebihi 100.000 landing dan sudah dipensiunkan, padahal design life DC-9 hanya sekitar 60.000 landing. Namun pesawat-pesawat tersebut tetap dioperasikan. Nasa bahkan punya pesawat yang berusia 25 tahun namun tetap beroperasi. Dan White House juga punya DC-9 yang dipergunakan first lady dengan usia sekitar 30 tahun namun kondisinya sangat bagus dan hanya memiliki sekitar 30.000 landing.

Di dunia penerbangan, Singapore Airlines dikenal memakai aircraft age sebagai senjata promosinya. Namun, pesawat baru tersebut memang ditunjang dengan operasional yang excellent. Tapi coba kita lihat Adam Air. Dalam kampanye pemasarannya, Adam Air bilang, “Fly with us with our new Boeing 737-400“. Faktanya, pesawat-pesawat tersebut bukan “baru” dalam artian keluar dari pabrik. Kadang kita malah diberangkatkan bukan dengan 737-400, melainkan 737-200 yang lebih tua. Apa namanya kalau bukan misleading dan pembohongan publik?

Kebanyakan pesawat yang akan dijual atau disewakan (leasing) memiliki data-data seperti aircraft general, maintenance data, engine data, propeller data, landing gear data, hydrolic data, pilot tube, dan sebagainya yang mengacu pada regulasi yang diterbitkan DGAC/DSKU. Tetapi di Indonesia, data-data tersebut tidak ada atau tidak update. Alasannya, jika terjadi audit dikuatirkan biayanya akan sangat mahal. Untuk mengkalibrasi pitot tube juga sangat mahal. Belum lagi dokumen resmi pendukung yang tidak ada (atau ditiadakan) — bahkan untuk ground run/run up saja jarang dilakukan.

Di Indonesia, pesawat diperoleh dalam keadaan lease atau buy second hand. Paper work mungkin mengatakan bahwa pesawat airworthy sesuai standar. Namun, di Amerika, pesawat yang baru dibeli biasanya diberlakukan aditional maintenance/inspection selama 30 hari. Di Boeing, mereka men-charge US$ 325/jam untuk engineering help kalau pesawat tidak dibeli langsung dari mereka. Padahal, dalam satu kali inspeksi setidaknya bisa mencapai 200 maintenance/repair items yang jelas butuh banyak biaya.

Kalau kita lihat pada sambungan badan (fuselage joint) pada pesawat-pesawat tersebut, memang sebenarnya sudah waktunya untuk mereka diistirahatkan. Lihat juga pada bagian sayap yang kotor dan banyak sekali keretakan, engine cover yang mengelupas, dan pintu kabin yang sudah saatnya dipensiunkan. Di dalam kabin, sering kita jumpai headlight yang tidak menyala, air conditioner yang tidak bisa diatur, back rest kotor dan berdebu, serta panel kabin yang usang. Lupakan juga cabin fire properties dan fire containment requirement yang kurang memadai. Ada lho penumpang yang cukup bego dan baka untuk merokok di dalam lavatory.

Di sistem navigasi/avionics juga terdapat LRU yang seharusnya diganti setelah sekian ribu jam terbang. Jaman sekarang, tidak ada alasan untuk terbang “buta” tanpanya. Korban Mandala dulu pernah menuntut soal ini. Dan di Qantas, mereka menyebutnya “poltergeist manuever.”

Nah, pertanyaannya apakah mungkin operator pesawat di Indonesia sanggup membayar harga tersebut? Kemudian, apakah aditional maintenance/inspection tersebut juga dijalankan? Dulu penumpang Adam Air mogok naik pesawat karena pesawat masih putih polos dalam keadaan belum dicat namun dipaksa beroperasi.

Wednesday, February 14, 2007

She is Slut (Dia Adalah Jalang)

Yaps! di hari valentine ini gw malah ketiban sial! Lo tau kenapa!? itu karena salah satu staf pengajar di sekolah gw terlibat masalah dengan gw. Sebut saja namanya Bu Yenny (bukan nama sebenarnya). Dia ini adalah guru mata pelajaran so*****gi di kelas 3. Guru ini menurut gw lumayan menyebalkan. Lo tau kenapa? dia ini sudah lama sentimen dan sebel sama gw. Sebetulnya gw kurang tau alasan dia sebel sama gw. Kadang gw lagi diem di pelajaran dia cuma karena gw dan chairmate gw si Manda pindah - pindah tempat duduk kita di marahin. Pernah juga gw lagi lewat kelas dia mengajar, dia marah - marah ga jelas sama gw karna gw jalan - jalan. Apa urusan nya sama dia!

Oia, kejadian kayak gitu ga berhenti disitu. Waktu bagi raport semester 1, nilai mata pelajaran
so*****gi gw dikasih jelek, dan satu - satu nya pelajaran yang ga tuntas! Oh Shit She is realy realy realy Slut! Matematik aja gw tuntas masa pelajaran yang gw rasa gw mampu malah dapet jelek. Terus pas banjir bandang kmaren kan rumah gw kemasukan air, alhasil gw ga masuk sekolah eh doi malah marah - marah lagi. Memang terlihat sekali kalo dia ini udah tua tapi sifatnya kayak anak kecil. Subjectiv dalam berkerja sebagai seorang pendidik (baca: guru gila)

Dan yang paling mengenaskan tadi pas pelajaran dia gw kena kasus. Jadi gini ceritanya, dia kan lagi cerita panjang lebar rada - rada songong gitu. Disini otak iseng gw jalan, gw agak kurang suka sama gaya dia ngomong. Gayun pun bersambut gw nyeletuk aja sampe sebagian temen - temen dikelas ketawa cekikikan. Wow! apa yang terjadi? gw dimaki - maki sama si Jalang itu! mana pake bawa - bawa kata - kata yang kurang etis bagi gw. Kontan saja gw kaget doi marah besar dan ngancem - ngancem gw. Disinilah keburukan dia terbuka. Si Jalang ini mengatakan "Saya kalau sudah kesal mainan nya nilai, bisa saja UAS kamu saya kasih empat dan afektif nya nol" Wow! sangat terbukti kalau dia ini guru yang licik. Kakak alumni gw juga pernah mengalami pengurangan nilai sama si Jalang ini.

Sebetulnya gw lumayan takut waktu dia bilang gitu ke gw. Tapi gw merasa dan berfikir "gw memang salah, tapi bukan untuk dipersalahkan!" "Gw masih punya nilai - nilai kebenaran yang harus gw pertahankan" Alhasil gw cerita ke walikelas gw sang guru ekonomi. Beliau adalah guru yang bijaksana. Beliau mengatakan bahwa seburuk - buruknya macan tidak akan memakan anaknya sendiri. Itu artinya bahwa wali kelas gw yang bijaksana ini akan membantu gw agar nilai - nilai gw yang selama ini di jelek - jelekin sama si Jalang bisa diperbaiki. Tadi teman gw Afezz juga bilang "Memang dia sifatnya begitu, suatu saat dia akan mendapatkan balasannya!" gw juga berfikir bawasanya "Tuhanku tidak akan membawaku sejauh ini hanya untuk meninggalkan ku, aku yakin Dia tetap bersama ku dan membimbingku kejalan yang benar" Amin Ya Allah!

Thursday, February 1, 2007

Tentang Cinta

Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan,
hanya terang yang bisa..

Kemarahan tidak bisa mengusir kemarahan,
hanya damai yang bisa..

Kerinduan tidak bisa mengusir kerinduan,
hanya kasih yang bisa..

Kegundahan tidak bisa mengusir kegundahan,
hanya CINTA yang bisa..





Jelang Malam 1/2