Pages

Friday, January 6, 2012

Yang Seperti Apakah Manusia Yang Sempurna (Insan Kamil) Itu?


Kadang ketika kita berfikir, apa arti hidup ini, dan untuk apa tujuan kita diciptakan oleh Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan yang seperti ini kadang terlintas di benak gw. Orang bilang hidup itu tujuan nya adalah untuk bisa menjadi orang yang berguna, orang yang bermanfaat orang yang begini, orang yang begitu, jadi orang dan bla bla bla. Terus orang yang telah mencapai cita-citanya atau tujuan hidupnya yang berbeda-beda itu bisa dikatakan orang yang sempurna?

Di HMI gw sering denger orang bilang atau liat orang nulis di spanduk tema acara kegiatan, tentang suatu kata yang disebut, Manusia yang Sempurna atau dalam bahasa lainnya yang sering juga gw liat adalah Insan Kamil. Makna dari kata-kata ini yang kadang gw gak ngerti ngebawa gw untuk merefresh otak gw yang pas-pas-an ini untuk mengingat kajian-kajian yang pernah gw pelajari selama ber-HMI juga hal-hal yang pernah gw baca sebelum nya.

Berbicara mengenai manusia, baik itu manusia sempurna atau manusia-manusia lainnya (apa sih maksudnya!? -_-) tentu tidak lepas dari perbincangan seputar ciptaan dan pencipta. Yaitu manusia sebagai ciptaan dan Tuhan sebagai pencipta nya. Berbicara hal tersebut ketika kita ingin menjabarkan tentang konsep spesifik tentang manusia sempurna ini merujuk akan bagaimana konsep sang penciptanya itu sendiri, konsep disini tentang ke-Ada-an, dan Ke-Apa-an Tuhan.

Dalam bahasa yang sederhana yang gw berusaha untuk jabarkan, bahwa sejauh yang gw tau Tuhan itu secara ke-Ada-an atau secara eksistensi adalah satu atau esa, namun secara secara esensi (kalo gw gak salah) jumlahnya sangat banyak, untuk memahami ke-eksistensi-an Tuhan kita bisa memahami dengan ada nya ciptaan. Ciptaan merupakan tajali-tajali nya Tuhan atau merupakan manifestasi Tuhan.

Manifestasi Tuhan ini lah yang dapat kita lihat di dunia, termasuk diri kita sendiri merupakan tajaliyah Nya. Menurut pemahaman gw yang masih standart ini, manifestasi ini mungkin berupa cerminan untuk memahami eksistensi Nya, dimana semakin jernih cermin tersebut maka semakin jernih pula merefleksikan eksistensi dan esensi Nya.

Dalam kajian Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI bab 4 tentang Manusia dan Nilai-nilai Kemanusiaan, secara garis besar yang bisa gw pahami adalah bahwa manusia sebagai insan bukan sekedar basyar (jasad/fisik semata tapi merujuk kepada kerohaniannya) merupakaan ciptaan yang paling sempurna dimana manusia memiliki tingkatan-tingkatan jiwa yang lebih tinggi dari ciptaan Tuhan yang lain seperti hewan ataupun tumbuhan. Nah kesempurnaan manusia ini capai ketika manusia melakukan gerak dengan mengaktualisasikan potensi diri sebagai ciptaan yang paling sempurna menjadi sebuah output yang aktual berupa sikap tindak yang mencapai tingkatan sehingga manusia tersebut dikatakan sempura.

Karena dalam setiap ciptaan merupakan tempat atau wadah bagi Tuhan untuk menampakan diri Nya, maka bagi manusia yang mampu mencapai tingkat kesempurnaan Insan mampu untuk merefleksikan nilai-nilai dan sifat-sifat Ketuhanan. Adapun Intensitas perefleksian nilai-nilai dan sifat-sifat Tuhan pada masing-masing makhluk berbeda-beda dan bergantung dengan ikhtiar setiap diri untuk menerima refleksi keTuhanan.

Adapun manusia sempurna di dunia ini tentunya Nabi Muhammad SAWW (Salallahu wa alayhi wa Ali wa Salam) yang derajat spiritualnya tertinggi dibanding kaum muslim manapun. Namun manusia yang berusaha dan ber-Ikhtiar sehingga mencapai tingkat ketawkaan dan keimanan yang tinggi akan mampu untuk mencapai tingkat Insan Kamil (Manusia Sempurna) yang tingkatan nya berada dibawah Nabi Muhammad SAWW dan para Imam Ahlul Bayt.

Semoga gw termasuk dalam golongan yang mampu untuk mencapai hal tersebut, Amin Amin ya Rabbal Al amin. Allahuma Shali ala Muhammad wa Ali Muhammad.

Catatan

Apabila ada kesalahan dalam tulisan ini, maka datang nya dari keterbatasan pengetahuan saya, dan kebenaran hanya milik Allah SWT semata, semoga Ia selalu melimpahkan rahmat pada orang-orang yang telah memberikan ku pencerahan (walaupun tampak nya saya belum cerah-cerah amat nih -_-).

Thursday, January 5, 2012

Dua Wajah Syi'ah Yang Saling Bersebrangan

Quito R. Motinggo

However, while rituals are performed regularly,
values are either violated, neglected or practised mere symbolically.

~ Asghar Ali Engineer

Usai acara dialog mesra antara seorang ustadz Syi’ah dengan seorang ustadz Sunni di suatu tempat di bilangan Jakarta Selatan, salah seorang sahabat saya yang menjadi penyelenggara dialog tersebut menghampiri saya dan berkata dengan bangga kepada saya bahwa ia bersyukur telah menjadi seorang Syi’ah. Saya pun bertanya kepadanya, ”Syi’ah (pengikut setia) siapa?”

“Syi’ah Ali dong!”katanya lugas.

Saya bertanya lagi padanya, ”Bukankah orang-orang Ismaili atau Zaidi pun mengaku sebagai Syi’ah Ali? Dan bukankah orang-orang yang menentang Imam Khomeini pun mengaku sebagai Syi’ah Ali? Lalu Anda Syi’ah Ali yang mana?”

Sahabat saya agak sedikit bingung. Ketika sahabat saya masih mencari jawaban untuk pertanyaan saya itu, saya langsung teringat kata-kata Ashgar Ali Engineer, seorang intelektual muslim India, ia berkata, ”Bagaimana pun, ketika ritrual-ritual agama ditampilkan atau dilakukan berulang-ulang, nilai-nilainya justru dilanggar dan diabaikan atau dipraktikkan sebatas simbol-simbol belaka.” 1]

Kata “Syi’ah” sendiri sempat menjadi renungan saya beberapa waktu belakangan ini setelah melihat bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan dari Ahlul Bayt tentang karakteristik Syi’ah sedemikian “berat” dengan kenyataan yang saya lihat.

Coba saja Anda renungkan hadis di bawah ini :

Ayah Imam al-Mahdi as, Imam Hasan al-Askari berkata, “Syi’ah Ali as. yaitu orang-orang yang tidak takut mati syahid di jalan Allah, dan syi’ah Ali itu adalah orang-orang yang mementingkan saudara-saudaranya atas diri mereka sendiri walaupun mereka sendiri dalam keadaan sulit, mereka itulah orang-orang yang Allah tidak melihat mereka melanggar laranganNya dan mereka tiada mengabaikan perintah-perintahNya, dan syi’ah Ali itu ialah orang-orang yang mengikuti jejak Imam Ali as di dalam memuliakan saudara-saudaranya yang beriman.” (Bihar al-Anwar Jil. 68, hal.162- 163)

Dari satu hadis ini saja betapa tinggi karakater Syiah atau pengikut Ali sejati itu.

Dan dari sekian banyak hadis tentang karakter Syiah yang pernah saya baca, hampir seluruhnya menekankan akhlak mulia dan ibadah yang luar biasa kuatnya.

Jika saya sendiri bercermin dengan satu hadis di atas ini saja, saya tidak berani lancang mengaku-aku sebagai Syiah.

Di dalam kitab Tanbih al-Khawatir diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Imam Hasan bin Ali as seraya berkata kepada Imam : “Sesungguhnya aku dari syi’ahmu!” Imam Hasan bin Ali as justru menjawab : “Wahai hamba Allah! Jika engkau mengikuti perintah-perintah kami dan menjauhi larangan-larangan kami, maka benarlah pengakuanmu itu, namun jika engkau tidak seperti itu, maka tidak bertambah kemuliaanmu, malah justru bertambahlah dosamu atas pengakuanmu itu. Jangan kau berkata aku dari syi’ahmu, tetapi katakanlah : “Saya orang yang mengikutimu, mencintaimu dan memusuhi musuh-musuhmu.” maka engkau berada di dalam kebaikan dan menuju kepada kebaikan.” (Tanbih al-Khawatir hal. 348)

Saya juga teringat peristiwa ‘Asyura, atau Tragedi Karbala, yang banyak dicatat dalam banyak kitab. Pada kejadian tersebut ada 2 tipe Syi’ah Husain yang keduanya saling berseberangan, yang pertama saya sebut sebagai Syi’ah Formal dan yang kedua Syi’ah Orisinal. Ada 12.000 sampai 18.000 orang di Kufah mewakili Syi’ah yang pertama. 2]

Mereka adalah para senior Syi’ah, atau orang yang banyak mengetahui dan mengamalkan ajaran-ajaran Syi’ah secara detail atau formal. Mereka punya gaya hidup sendiri dan amal ibadah yang sedikit berbeda dengan kebanyakan orang.

Mereka inilah yang melayangkan surat pernyataan janji setia (bai’at) dengan semangat yang menggebu-gebu kepada Imam Husain as. Bisa jadi mereka juga menyatakan kesediaan mereka untuk mati syahid demi sang Imam. Mereka datang berbondong-bondong untuk berbaiat kepada Muslim bin ‘Aqil yang ditunjuk sebagai wakil Imam Husain.

Namun, selang tidak berapa lama –- menurut sebuah riwayat tidak sampai seminggu -– mereka malah meninggalkan Muslim bin ‘Aqil seorang diri ketika pasukan Ubaidillah bin Ziyad datang ke Kufah. Sekejap saja nyali mereka ciut begitu mendengar ancaman Ibn Ziyad yang akan membunuh isteri, anak-anak dan membumihanguskan tempat tinggal mereka.

Janji setia mereka menguap bersama embun yang ditimpa cahya mentari.

Bahkan ketika Ibn Ziyad menjanjikan kepada mereka dengan impian-impian duniawi, maka semua yang pernah mereka nyatakan di dalam bai’at pupus dari ingatan mereka. Sampai-sampai ketika mereka dipaksa dan digiring ke Karbala untuk bergabung dengan pasukan Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash segenap kesadaran insani mereka pun lenyap.

Ini tentu saja bertolak belakang dan berseberangan dengan Syi’ah Orisinal. Ada 2 macam Syi’ah Orisinal. Yang pertama adalah orang-orang yang sama seniornya dengan orang-orang di Kufah. Perbedaannya, mereka ini senantiasa bersama Imam Husain kemana pun Imam pergi. Ada semacam bentuk cinta yang bisa diungkapkan dengan kata-kata : ”Saya tak bisa hidup jika sehari saja tak melihat Anda”.

Ungkapan seperti ini bukan ungkapan klise, karena ada beberapa sahabat Nabi yang apabila hati mereka sumpek mereka datang menemui Nabi Saw untuk sekadar melihat wajah sang Nabi yang mereka cintai. Mereka mengatakan kepada Rasulullah, ”Kepenatan dan kesusahan yang ada dalam hati saya hilang begitu saya melihat Anda, wahai Rasulullah!”

Ketika orang-orang Kufah sedemikian takut apabila isteri, anak-anak dan harta mereka dimusnahkan pasukan Ibn Ziyad, sebaliknya orang-orang berwajah Syi’ah Orisinal pertama ini yang ketika Imam Husain meminta mereka meninggalkan Imam beserta keluarganya, mereka bahkan menolak. Sebenarnya, andai saja mereka meninggalkan Imam Husain, Imam pun akan memaafkan dan memaklumi mereka. Namun mereka justru berkata, ”Kami tidak akan membiarkan Anda sendirian…dengan kata-kata apa kami sanggup meminta maaf kepada kakek (Rasulullah), ibu dan ayahmu….Andai pun kami terbunuh lalu dihidupkan kembali, maka kami akan tetap berperang hingga terbunuh lagi. Bahkan hingga 70 kali terbunuh pun kami takkan meninggalkan Anda, apalagi kenyataannya mati hanya sekali!” 3]

Mereka ini memang orang-orang yang dididik langsung oleh Ahlul Bait Nabi. Berbeda dengan yang pertama, wajah Syi’ah Orisinal kedua justru bukanlah orang-orang Syi’ah pada awalnya. Mereka tidak sedikit pun mengerti ajaran-ajaran Syi’ah, apalagi ritual-ritualnya, akan tetapi mereka memiliki nilai dan esensi Syi’ah yang sama kuatnya dengan yang pertama. Meminjam istilah Imam Ja’far as dan Zainab al-Kubra, ”Mereka berasal dari tanah-tanah Ahlul Bait!”.

Mereka ini diwakili oleh Zuhair bin Al-Qain Al-Bajli, Al-Hurr bin Yazid ar-Riyahi dan seorang pastur Nashrani yang sempat meminjam kepala Imam Husain yang suci untuk dibersihkan dan dimandikan.

Mengenai Zuhair bin Al-Qain Al-Bajli, pada mulanya ia seorang pengikut Utsmani yang fanatik, ia menganggap bahwa khalifah Utsman terbunuh dalam keadaan dizalimi. Ketika Imam Husain berangkat dari Makkah menuju Kufah, mereka membuntuti kafilah Imam Husain dengan sangat hati-hati.

Sampai di suatu tempat, Imam berkemah beserta keluarga dan pengikutnya, begitu pun Zuhair beserta keluarga dan sukunya berkemah tidak jauh dari tempat perkemahan Imam. Imam yang sejak awal mengetahui bahwa ia dibuntuti Zuhair, akhirnya mengundang Zuhair untuk makan malam bersama. Zuhair sempat terkejut, sementara isterinya yang notabene memang pencinta dan pengikut Ahlul Bait mendorongnya untuk menghadiri undangan istimewa tersebut.

Sebelum bertemu muka dengan wajah mulia sang cucu Nabi, tidak sedikit pun terbetik di dalam hatinya untuk turut berjihad membela Imam Husain. Tetapi begitu ia melihat wajah suci putra Fathimah yang tinggal satu-satunya ini hatinya kepincut, seluruh jiwa raganya terbakar cinta yang luar biasa dahsyat.

Mungkin ia sendiri merasa heran, darimana munculnya energi gaib ini sehingga ia berkata kepada isterinya, ”Wahai isteriku, aku sekarang menceraikanmu, pulanglah, aku tidak ingin ada musibah yang menimpamu” 4]

Di Karbala, Zuhair syahid setelah membunuh 120 orang-orang musuh-musuh Imam Husain as. 5]

Ajaib! Inikah yang dikatakan hati yang langsung terbalik atau qallibal qulub? Begitu cepatnya kebencian berbalik menjadi cinta sebagaimana cinta berbalik menjadi benci! Ada pun mengenai al-Hurr, saya ingin memberikan sebuah pendahuluan mengenai 4 tipe manusia ditinjau dari kemerdekaan fisik dan spiritualnya.

Yang pertama adalah manusia yang tidak merdeka secara fisik maupun secara ruhani. Mungkin contoh yang paling tepat adalah berkenaan dengan seorang budak yang bernama Wahsyi. Ketika perang Uhud sedang berkecamuk, Wahsyi menerima tawaran Hindun, isteri Abu Sufyan, untuk mendapatkan kebebasan (fisik)-nya untuk membunuh manusia yang paling dicintai Allah dan Rasul-Nya, yaitu, Hamzah bin Abdul Muthalib. Walau pun Wahsyi berhasil membunuh Hamzah, paman Rasulullah dan mendapatkan kemerdekaan fisiknya, namun penyesalan yang mendalam membelenggunya sampai akhir hayatnya. Beberapa tahun kemudian, ketika Makkah akhirnya ditaklukkan kaum Muslim, penduduk Makkah mendapat amnesti umum. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Wahsyi. Ia pun bersegera datang menemui Rasulullah saww. Rasulullah mengampuni Wahsyi, namun Rasulullah saww bersabda kepadanya, ”Jangan lagi engkau tampakkan wajahmu sejak hari ini!”

Thomas Szasz mengatakan, “Orang yang bodoh tidak memberi maaf dan juga tidak melupakan. Orang yang naif memberi maaf dan melupakan. Tetapi orang bijak, memaafkan tetapi tidak melupakan” 6]

Jenis manusia yang kedua, adalah manusia yang fisiknya menjadi budak tetapi jiwanya merdeka dan yang ketiga sebaliknya. Contoh mengenai hal ini adalah Nabi Yusuf as dan Zulaikha, isteri majikannya.

Al-Qur’an mengatakan, “Dan wanita-wanita di kota berkata,“Istri Al Aziz menggoda pelayannya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada pelayannya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya Kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.” (QS Yusuf [12] ayat 30)

Imam Muhammad al-Baqir as menjelaskan ayat tersebut di atas, “Sungguh cintanya (Zulaikha) kepada Yusuf telah menutup (menghijab) pandangannya dari manusia sehingga akal pikirannya tidak berfungsi. Hijabnya itu adalah cintanya yang sangat mendalam kepada Yusuf dan cinta yang sangat mendalam itulah yang menghijab (menutupi) hatinya”. 7]

Zulaikha tak sadar telah menjadi budak dari cintanya yang semu itu. Betapa banyak orang yang secara fisik bebas merdeka tetapi jiwanya terbelenggu dan menjadi budak ego serta hawa nafsu. Sebaliknya banyak orang yang menjadi budak secara fisik tetapi jiwanya bebas dan merdeka, karena jiwanya terbebaskan dari perbudakan hasrat-hasrat rendah.

Di dalam al-Qur’an yang mulia, Nabi Yusuf as berkata, ”Rabbis sijnu ahabbu ilayya mimma yad’uu nanii ilaihi – Tuhan…penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan (hawa nafsu) mereka kepadaku” (QS Yusuf [12] ayat 33)

Dengan kata lain Yusuf mengatakan, “Lebih baik aku dipenjara secara fisik ketimbang jiwaku terpenjara nafsu!” 8]

Bahaya terbesar di masa kita ini adalah kita cenderung memerhatikan serta membatasi kemerdekaan sebatas kemerdekaan fisik atau sosial politik, namun melupakan kemerdekaan jiwa dan spiritual. Padahal mengabaikan kemerdekaan spiritual mengakibatkan kemerdekaan fisik pun tidak dapat terpelihara.

Jenis manusia yang keempat adalah manusia yang merdeka baik fisik mau pun jiwanya. Dan contoh untuk jenis manusia keempat ini adalah al-Hurr

Seperti Nabi Musa as, ketika belum diangkat menjadi seorang Rasul, beliau adalah putera mahkota Fir’aun, Raja Mesir, yang memperbudak bangsa Bani Israel yang merupakan ras Musa as sendiri. Musa as yang sejak kecil diangkat sebagai anak oleh Fir’aun memiliki jiwa yang merdeka.

Pembelaan beliau kepada Bani Israel bukanlah didasarkan kepada pola pikir rasialisme. Musa as membela Bani Israel semata-mata karena pembelaannya kepada keadilan dan kaum tertindas. Tanpa ragu Musa as menanggalkan segala atribut kebesaran dan kemewahan termasuk mahkota kepangeranannya demi menegakkan kebenaran dan memerdekakan kaum yang tertindas. Saat itulah Musa as memperoleh kemerdekaan yang paling sempurna.

Seperti Nabi Musa as, demi memperoleh kemerdekaan spiritual, al-Hurr juga rela menanggalkan atribut kepanglimaannya dan impian-impian duniawinya yang dijanjikan Ibn Ziyad kepadanya.

Ini bukan soal mudah! Tidak mudah menukar impian-impian personal kita dengan sebuah KEMATIAN! Hanya orang-orang luar biasa (extra ordinary people) saja yang mampu melakukannya.

Sama seperti seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah saww seraya berkata, ”Kami telah beriman!”. Rasulullah Saw menolak pernyataannya seraya menghibur lelaki ini, “Orang-orang yang benar-benar beriman adalah mereka yang memiliki iman sekeras baja, mereka telah mampu berhijrah dari ego-ego personal mereka dan berjihad melumpuhkan musuh yang ada di dalam mau pun di luar dirinya. Akan tetapi jika Anda taat kepada Allah dan Rasul-Nya, itu sudah memadai” 9].

Sekali lagi tidak mudah menjadi orang Syi’ah sama tidak mudahnya menjadi orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Kepada Nabi Musa as Allah SwT berfirman, ”Wash thana’tuka linafsi! – Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku!” (QS 20 : 41)

Di hadapan jenazah al-Hurr, Imam Husain dengan penuh kasih mengusap wajahnya yang bersimbah darah seraya berkata, ”Tidak salah ibumu menamaimu al-Hurr, sebab engkau merdeka (al-Hurr) di dunia dan di akhirat”

Al-Hurr syahid setelah berhasil membunuh 80 pasukan berkuda, prajurit-prajurit musuh takut mendekatinya. Umar bin Sa’ad memerintahkan pasukan pemanah untuk mengepung al-Hurr dari segala penjuru dan secara bersamaan melepaskan anak panah ke sekujur tubuh al-Hurr. Al-Hurr pun jatuh tersungkur dan syahid. 10]

Mampukah kita membebaskan diri kita dari belenggu-belenggu cinta diri dan cinta dunia seperti al-Hurr dan Zuhair? Yang menarik, menurut saya, kemungkinan besar keduanya tidak sempat melakukan amalan-amalan Syiah seperti kaum Syiah di Kufah.

Ini berbeda dengan lelaki paling durjana, Syimr, karena sedemikian yang menginginkan harta dan kedudukan duniawi, dia rela menukarkan keyakinannya.

Anda tentu mengenal Syimr bin Dzi al-Jauysan? Saya pikir tak seorang Syi’ah pun yang tidak mengenal orang yang paling buruk yang pernah diciptakan Tuhan seperti lelaki ini? Sebagian orang mungkin tidak percaya bahwa Syimr pernah dengan setia turut serta berperang bersama Imam Ali as di pertempuran Jamal dan Shiffin, tapi catatan sejarah telah mencatat nama orang ini berada di pihak Imam Ali as. pada kedua pertempuran tersebut 11]

Anda juga tentu masih ingat bahwa di antara 12 ribu atau 18 ribu orang penduduk Kufah yang berbaiat kepada Imam Husain as ada seseorang yang bernama al-Mukhtar al-Tsaqafi, seorang Syi’ah yang sempat ber-taqiyyah - mengelak mengakui – di hadapan Ubaidillah ibn Ziyad, bahwa ia salah seorang pendukung Muslim bin Aqil. 12]

Terlepas dari Mukhtar yang akhirnya bertaubat dan membunuh para pembunuh Imam Husain as, namun harus diingat bahwa sebelumnya ia sempat terperosok ke lembah ‘pengkhianatan’. Memang bukan perkara mudah menjadi seorang Syi’ah Ali sebagaimana tidak mudah pula menjadi seorang yang beriman.

Jika al-Qur’an yang mulia mengatakan, ”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ”Kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum kamu, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar (shadaquu) dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta (al-kaadzibiin)!” (QS 29 : 2-3).

Maka di dalam sebuah hadits yang dicatat oleh ‘Allamah Baqir al-Majlisi (qs) di dalam kitabnya Bihar al-Anwar bahwa : Ketika para sahabat Imam Muhamad al-Baqir as sedang duduk bersama beliau, datanglah seorang lelaki seraya berkata kepada Imam al-Baqir as, “Demi Allah! Sesungguhnya aku mencintai kalian Ahlul Bait!” Imam as menjawab, ”Jika demikian, kenakanlah musibah sebagai jubahmu! Demi Allah! Sesungguhnya cobaan (bala’) itu benar-benar lebih cepat datangnya kepada kami (Ahlul Bait) dan pengikut kami ketimbang meluncurnya air bah ke dasar lembah. Kamilah (Ahlul Bait) yang pertama kali yang akan ditimpa musibah baru kemudian kalian. Kamilah yang pertama kali memperoleh kesenangan hidup (di akhirat) baru kemudian kalian!” 13]

Dalam riwayat lainnya, Imam Ja’far al-Shadiq as menceritakan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib as, “Demi Allah! Sesungguhnya aku benar-benar mencintai Anda!” (Laki-laki ini mengatakannya 3 kali kepada Imam) Namun setelah itu Imam Ali as justru berkata kepadanya, “Demi Allah! Engkau tidak mencintaiku!”

Mendengar hal ini marahlah laki-laki ini seraya berujar, “Anda mengatakan demikian, demi Allah, seolah-olah Anda mengetahui apa yang ada di dalam hatiku!?” Imam Ali as menjawab, “Allah telah menciptakan ruh-ruh (arwah) sebelum badan-badan (ini) 1000 tahun namun tidak kulihat ruhmu di sana!” 14]

Dan penghulu para syuhada pun, Imam Husein as mengatakan, ”(Kebanyakan) Manusia ini adalah hamba (budak) dunia, dan agama hanya menjadi buah bibir mereka. Mereka akan menjaganya selama agama mendatangkan manfaat bagi mereka. Tetapi apabila mereka diuji (akan terbukti) hanya sedikit orang-orang yang benar-benar beragama” 15]

Saya pernah mendengar dari Ustadz saya yang saya cintai, al-Ustadz Ahmad Rusydi Alaydrus (semoga Allah senantiasa merahmati dan menyayanginya) bahwa pada masa Revolusi Islam di Iran, seorang alim Syiah mati disiksa dengan lubang dikeningnya karena dibor (disiksa) oleh SAVAK, agen rahasia Shah Iran. Sebelum jenazah sang alim ini dimakamkan, Imam Khoimeini (qs) berkhotbah tentang sang alim ini hanya dengan beberapa patah kata, “Jika anda ingin tahu orang Syiah, saksikanlah bahwa dia inilah orang SYIAH!”

Laa hawla wa laa quwwata illa billah!

Catatan

Salah satu tujuan tulisan ini adalah membantah para pembenci Syiah yang menyebarkan syiar jahat bahwa para pembunuh Imam Husain as adalah orang-orang Syiah sendiri.

Catatan Kaki
1. Asghar Ali Engineer, Values, Not Rituals Are Essence Of Religion, sebuah artikel yang dibuatnya pada bulan Juni 2001 di Web Site : Progressif Dawoodi Bohras.

2. HMH. Al-Hamid al-Husaini, Al-Husain bin Ali Pahlawan Besar, h. 276, CV. Toha Putera, 1984. Lihat juga Musa Shadr, Syuhada Padang Karbala, h. 76, Penerbit Mizan Februari 1996.

3. Muhsin Labib, Husain Sang Ksatria Langit, masih dalam draft sebelum dicetak dan diberi pengantar oleh almarhum Motinggo Busye, hal. 93.

4. Musa Shadr, ibid h. 39

5. Muhsin Labib, Ibid h. 101.

6. Thomas Szasz, The Second Sin, Chapter Personal Conduct, 197

7. Tafsir Nur al-Tsaqalain 2 : 423.

8. Murtadha Muthahhari, Jejak Jejak Ruhani, hal. 20, Penerbit Pustaka Hidayah

9. QS 49 : 15-16

10. Musa Shadr, ibid h. 147.

11. Al-Khatib Syekh Abdul Wahab Al-Kasyi, Asyura Dalam Perspektif Islam, h. 126, Penerbit Yayasan Islam al-Baqir, Cet. I , Januari 1996.

12. Muhsin Labib, ibid h. 46

13. ‘Allamah Baqir al-Majlisi, Bihar al-Anwar 46 : 360, Jami’ al-Ahadits.

14. Ibid, Bihar al-Anwar 61 : 132.

15. Tuhaf al-’Uqul hal. 245


Dikutip dari Quito R. Mottinggo

Saturday, December 31, 2011

Owner turun gunung


Setahun lewat ga posting di blog ini. Gada perkembangan berarti selama setahun belakangan dalam dunia tulis-menulis gw. Gak bakat kali ya!? tapi ga masalah, setidak nya blog ini bisa jadi tempat gw menulis kalo lagi tiba-tiba pengen nulis sesuatu.

Kayak hari ini, hari Sabtu di Weekend terakhir di tahun 2011, penyakit baru dalam hidup gw. INSOMNIA, ya!! benar, sudah hampir satu bulan semenjak semakin pasti menjadi pengangguran (sementara) paska sarjana dan belum dapat kerja, kerjaan gw nonton bola dan maen game bola (baca: PES 2012 G1SL v.1.1). Kebiasaan yang berlarut-larut dibiasakan akhirnya jadi kebiasaan -_-!! yaitu susah tidur.

Efek penyakit ini sangat banyak, gausah dijabarkan satu per satu, intinya gw pengen bisa tidur cepat, bangun pagi dan ber-olahraga. Itu dia salah satu resolusi gw di tahun 2012 yang bentar lagi akan kita sambut bersama.

Well, gatau lagi deh mau nulis apa, kapan-kapan pengen posting yang lebih bermanfaat kyk postingan gw yang lalu-lalu, tapi sayang lagi kurang bahan bacaan, bahan pikiran banyak hahaha..

daaaagh... :D

Monday, June 28, 2010

Manusia dan Binatang


Manusia merupakan sebangsa binatang. Dia memiliki banyak kesamaan dengan binatang lainnya. Pada saat yang sama manusia memiliki banyak ciri yang membedakan dirinya dengan binatang lainnya, dan ciri-ciri ini menempatkannya lebih unggul daripada binatang. Ada ciri-ciri utama yang mendasar, yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Sifat-sifat manusiawi manusia ditentukan oleh ciri-ciri ini. Ciri-ciri ini, yang juga menjadi sumber dari apa yang dikenal sebagai budaya manusia, berkaitan dengan dua hal. Yaitu, sikap dan kecenderungan.

Pada umumnya binatang memiliki kemampuan melihat dan mengenal dirinya sendiri dan dunia sekitarnya. Dan dengan berbekal pengetahuan yang didapat dari melihat dan mengenal ini, binatang berupaya mendapatkan apa yang diinginkannya. Seperti binatang lainnya, manusia juga memiliki banyak keinginan. Dan dengan bekal pengetahuan dan pengertiannya, manusia berupaya mewujudkan keinginannya. Manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Bedanya adalah manusia lebih tahu, lebih mengerti, dan lebih tinggi tingkat keinginannya.

Kekhasan ini —yang dimiliki manusia— membedakan manusia dengan binatang, dan membuat manusia lebih unggul daripada binatang lainnya.

Pengetahuan dan Keinginan Binatang

Hanya melalui indera (alat untuk merasa, mencium bau, mendengar, melihat, meraba, dan merasakan sesuatu secara naluri—pen.) yang dimiliki, binatang mengenal (mengetahui) dunia. Itulah sebabnya. Pertama, pengetahuannya dangkal. Pengetahuannya tidak sampai menguasai detail sesuatu dan tidak memiliki akses ke hubungan-hubungan internal yang terjadi dalam sesuatu itu. Kedua, pengetahuannya parsial dan khusus, tidak universal dan tidak umum. Ketiga, pengetahuannya regional (terbatas pada wilayah tertentu), karena terbatas pada lingkungan hidupnya dan tidak lebih dari itu. Keempat, pengetahuannya terbatas pada saat sekarang dan tidak berkenaan dengan masa lalu dan masa mendatang. Binatang tidak mengetahui sejarahnya sendiri atau sejarah dunia. Karena itu, binatang tidak berpikir tentang masa depannya, dan juga tidak merencanakan masa depannya.

Dari segi pengetahuannya, binatang tak sanggup keluar dari kerangka lahiriahnya, kekhususannya, lingkungan hidupnya, dan masa sekarangnya. Binatang tak pernah lepas dari keempat bidang ini. Kalau saja secara kebetulan dapat melewati batas-batas keempat bidang ini, itu terjadi secara naluriah dan tidak sadar, bukan karena kehendak dan pilihannya sendiri.

Seperti pengetahuannya, tingkat keinginan dan hasrat binatang juga terbatas ruang lingkupnya. Pertama, segenap hasratnya bersifat material, dan tidak lebih dari makan, minum, tidur, bermain, kawin, dan membuat sarang. Binatang tidak memiliki kebutuhan spiritual, nilai moral dan sebagainya. Kedua, segenap keinginannya bersifat pribadi dan individualistis, berkaitan dengan binatang itu sendiri, atau paling banter berkaitan dengan pasangan dan anak-anaknya. Ketiga, binatang bersifat regional, yaitu berkaitan dengan lingkungan hidupnya saja. Keempat, binatang bersifat seketika itu, yaitu berkaitan dengan masa sekarang.

Dengan kata lain, dimensi keinginan dan kecenderungan dalam eksistensi binatang ada batasnya, begitu pula dimensi eksistensi pengetahuannya. Dari sudut pandang ini juga, binatang harus hidup dalam batas tertentu. Jika binatang mengejar sasaran yang berada di luar batas ini dan misalnya, yang berkenaan dengan spesiesnya pada umumnya dan bukan dengan satu individu atau berkenaan dengan masa depan dan bukan dengan masa kini, sebagaimana terlihat terjadi pada binatang tertentu yang hidup berkelompok seperti lebah, itu terjadi secara tak sadar, secara naluri, dan karena aturan langsung dari kekuatan yang telah menciptakannya dan yang mengatur seluruh alam.

Pengetahuan dan Keinginan Manusia

Wewenang manusia di bidang pengetahuannya, informasi dan pandangannya, dan di bidang keinginan dan kecenderungannya, sangat luas dan tinggi. Pengetahuannya berangkat dari sisi eksternal sesuatu menuju sisi realitas internal sesuatu itu, saling hubungan yang terjadi di dalam sesuatu itu, dan menuju hukum yang mengatur sesuatu itu. Pengetahuan manusia tidak terbatas pada ruang atau waktu tertentu. Pengetahuan manusia mengatasi batas-batas seperti itu. Di satu pihak, manusia mengetahui peristiwa yang terjadi sebelum dia lahir, dan di lain pihak manusia bahkan mengetahui planet-planet selain bumi dan bintang-gemintang. Manusia mengetahui masa lalu maupun masa depannya. Dia mengetahui sejarahnya sendiri dan sejarah dunia, yaitu sejarah bumi, langit, gunung, sungai, tumbuhan dan organisme hidup. Yang menjadi pemikiran manusia bukan saja masa depan yang jauh, namun juga hal-hal yang tak terhingga dan abadi. Sebagian dari hal-hal ini diketahui oleh manusia. Manusia bukan sekadar mengetahui keanekaragaman dan kekhasan. Dengan maksud menguasai alam, manusia mencari tahu tentang hukum alam semesta dan kebenaran umum yang berlaku di dunia.

Dari sudut pandang ambisi dan aspirasinya, kedudukan manusia luar biasa, karena dia adalah makhluk yang idealistis, tinggi cita-cita dan pemikirannya. Sasaran yang juga ingin dicapainya adalah sasaran yang sifatnya non-material dan tidak mendatangkan keuntungan material. Sasaran seperti ini adalah sasaran yang menjadi kepentingan ras manusia seluruhnya, dan tidak terbatas pada dirinya dan keluarganya saja, atau tidak terbatas pada wilayah tertentu atau waktu tertentu saja.

Manusia begitu idealistis, sampai-sampai dia sering lebih menomorsatukan akidah dan ideologinya dan menomorduakan nilai lain. Dia bahkan menganggap melayani orang lain lebih penting daripada mewujudkan kesejahteraannya sendiri. Dan manusia memandang duri yang menusuk kaki orang lain seperti seakan menusuk kakinya sendiri atau bahkan matanya sendiri. Dia merasa bersimpati kepada orang lain dan mau berbagi suka dan duka. Manusia begitu penuh dedikasi kepada akidah dan ideologi sucinya, sampai-sampai dia mudah mengorbankan hidupnya demi akidah dan ideologi sucinya itu. Segi manusiawi dari budaya manusia yang dianggap sebagai roh sejati budaya tersebut merupakan hasil dari perasaan dan keinginan seperti itu.

Dasar dari Karakter Manusia

Berkat upaya kolektif manusia selama berabad-abad, manusia memiliki pengetahuan dan pemahaman yang luas tentang dunia. Informasi yang didapat kemudian dihimpun dan dikembangkan. Setelah mengalami proses dan sistematisasi, informasi ini kemudian menjadi dikenal sebagai "ilmu" dalam artinya yang lebih luas, yaitu jumlah seluruh gagasan manusia tentang kosmos (alam semesta). Di dalamnya tercakup juga filsafat, sebuah produk dari upaya kolektif manusia yang diberi bentuk logika yang khusus.

Kecenderungan spiritual dan tingginya kesadaran manusia ada karena manusia mempercayai realitas-realitas tertentu dunia ini, dan karena dedikasinya kepada realitas-realitas tersebut. Realitas-realitas ini sifatnya bukan individualistis dan juga bukan material. Sifatnya komprehensif dan umum, di dalamnya tak ada soal keuntungan ekonomi, dan pada gilirannya merupakan hasil dari pengetahuan dan pemahaman tertentu mengenai dunia yang disampaikan kepada manusia oleh para nabi, atau dilahirkan oleh pemikiran idealistis sebagian filosof.

Bagaimanapun juga, kecenderungan spiritual dan suprahewani lebih tinggi yang ada pada diri manusia, jika dasarnya adalah infrastruktur doktrinal dan intelektual, memakai nama agama. Karena itu, kesimpulannya adalah bahwa yang membedakan secara mendasar antara manusia dan makhluk hidup lainnya adalah pengetahuan dan agama, dan bahwa pengetahuan dan agama merupakan dasar dari ras manusia, dan ras manusia ini bergantung pada pengetahuan dan agama.

Sudah banyak dibahas tentang perbedaan antara manusia dan spesies binatang lainnya. Sebagian berpandangan bahwa antara manusia dan spesies binatang lainnya itu tak ada perbedaan yang mendasar. Mereka mengatakan bahwa perbedaan pengetahuan merupakan perbedaan kuantitas, atau paling banter perbedaan kualitas, namun bukan perbedaan hakikat. Mereka memandang tidak begitu penting prestasi-prestasi manusia yang luas dan luar biasa di bidang pengetahuan, padahal prestasi-prestasi ini menarik perhatian filosof-filosof besar Timur dan Barat.

Tomas Hobes mengatakan bahwa dari sudut pandang keinginan dan hasratnya, manusia tak lebih daripada binatang. Sebagian yang lain percaya bahwa perbedaaan utamanya adalah perbedaan kehidupan. Manusia adalah satu-satunya binatang yang sepenuhnya hidup. Binatang yang lain tak memiliki perasaan, dan tak tahu suka dan duka. Binatang yang lain ini hanyalah mesin-mesin yang setengah hidup. Karena itu, definisi yang sebenarnya mengenai manusia adalah bahwa manusia adalah makhluk hidup (Teori Rene Descartes). Pemikir-pemikir lain tidak mempercayai itu, dan berpendapat bahwa antara manusia dan makhluk hidup lainnya itu ada per­bedaan yang mendasar. Kelihatannya fokus masing-masing kelompok sarjana ini adalah satu karakteristik manusia. Itulah sebabnya manusia lalu didefinisikan dengan begitu banyak cara yang berlainan. Manusia digambarkan sebagai binatang yang rasional, makhluk yang benar-benar berupaya mendapatkan apa yang dikehendakinya, makhluk yang tak ada ujungnya, makhluk yang idealis, makhluk yang mencari nilai-nilai, binatang metafisis, makhluk yang tak pernah terpuaskan, makhluk yang tak ada batasannya, makhluk yang bertanggung jawab, makhluk yang berpandangan ke depan, agen (faktor atau instrumen) yang bebas, makhluk yang memberontak, makhluk yang suka ketertiban sosial, makhluk yang suka keindahan, makhluk yang suka keadilan, makhluk berwajah ganda, makhluk yang romantis, makhluk yang intuitif, makhluk yang mempercayai standar ganda, makhluk yang dapat mencipta, makhluk yang kesepian, makhluk yang memiliki perhatian kepada publik, makhluk yang fundamentalis, teoretis, dan dapat membuat peralatan, makhluk supranaturalis, imajinatif, spiritualis, transendentalis, dan sebagainya.

Tak pelak lagi, masing-masing keterangan ini benar, dilihat dari kualitas-kualitas esensialnya masing-masing. Akan tetapi, jika kita mau mendapatkan ungkapan yang mencakup semua perbedaan mendasarnya, maka harus kita katakan bahwa manusia adalah binatang yang berpengetahuan dan beragama.

Apakah Sisi Manusiawi Manusia Itu Suprastruktur

Kita tahu bahwa manusia adalah sebangsa binatang. Manusia memiliki banyak kesamaan dengan binatang lainnya. Namun manusia juga memiliki banyak karakteristik khas. Karena memiliki banyak kesamaan dan perbedaan dengan binatang lainnya, manusia memiliki kehidupan ganda: Kehidupan binatang dan kehidupan manusia, kehidupan material dan kehidupan budaya. Di sini timbul pertanyaan: Apa hubungan antara segi manusiawi manusia dan segi hewaninya, kehidupan manusiawinya dan kehidupan hewaninya? Apakah nilai penting satu segi adalah esensial, sedangkan segi lainnya nilai penungnya sekunder? Apakah satu segi menjadi dasarnya, sedangkan segi lainnya hanyalah refleksi dari segi yang menjadi dasar tersebut? Apakah satu segi menjadi infrastrukturnya, sedangkan segi lainnya suprastrukturnya? Apakah kehidupan material merupakan infrastrukturnya, sedangkan ke­hidupan budaya merupakan suprastrukturnya? Apakah segi hewani manusia merupakan infrastrukturnya, sedangkan kehidupan budayanya merupakan suprastrukturnya? Apakah segi hewani manusia itu infrastrukturnya, sedangkan segi manusiawinya itu suprastrukturnya?

Dewasa ini, pertanyaan ini diajukan dari sudut pandang sosiologis dan psikologis. Itulah sebabnya pembahasannya berkisar di seputar pertanyaan apakah di antara karakteristik-karakteristik sosial manusia, kecenderungan-kecenderungan ekonominya yang berkaitan dengan produksi dan hubungan produksi lebih penting daripada karakteristik-karakteristik lain manusia, khususnya yang mencerminkan segi manusiawi manusia, dan apakah karakteristik dan kecenderungan lain manusia hanyalah suprastruktur dari karakter ekonominya? Pertanyaan lain yang juga berkaitan adalah apakah betul ilmu, filsafat, sastra, agama, hukum, etika, dan seni pada setiap zaman hanyalah merupakan perwujudan dari hubungan ekonomi pada zaman itu dan tak memiliki nilai intrinsiknya sendiri?

Sekalipun pertanyaan ini diajukan dari sudut pandang sosiologis, namun tak pelak lagi pembahasannya membawa hasil psikologis dan pembahasan filosofis tentang karakter manusia, yang dalam istilah modern dikenal dengan sebutan "humanisme". Pada umumnya kesimpulannya adalah bahwa sisi manusiawi manusia tidak penting. Yang penting adalah sisi hewani manusia saja. Dengan kata lain, yang didukung adalah pandangan orang-orang yang menyangkal adanya perbedaan mendasar antara manusia dan binatang.

Teori ini bukan saja menolak pentingnya kecenderungan manusia kepada realisme, kebajikan, keindahan, dan kepercayaan kepada Allah, namun juga menolak pentingnya pendekatan rasional manusia terhadap dunia dan kebenaran. Dapat ditunjukkan bahwa tidak ada pendekatan yang netral. Tak pelak lagi, setiap pendekatan menunjukkan pandangan material tertentu. Mengherankan bila sebagian mazhab yang mendukung teori yang menyebutkan bahwa manusia pada dasarnya adalah binatang, secara serempak mereka berbicara tentang sisi manusiawi dan humanisme juga.

Fakta bahwa perjalanan evolusioner manusia berawal dari sisi hewani manusia dan bergerak menuju sisi manusiawinya, sebuah tujuan yang sangat mulia. Prinsip ini berlaku untuk individu maupun masyarakat. Pada permulaan eksistensinya, manusia tak lebih daripada organisme material. Berkat gerakan evolusioner yang mendasar, manusia berubah menjadi substansi spiritual. Roh (spirit) manusia lahir dalam alam tubuh manusia, dan kemudian menjadi mandiri. Sisi hewani manusia merupakan sarang tempat sisi manusiawi manusia berkembang dan matang. Karakteristik evolusi adalah semakin berkembangnya suatu makhluk, semakin mandiri dan efektiflah dia, dan dia pun akan semakin mempengaruhi lingkungannya. Ketika sisi manusiawi manusia berkembang, sebenarnya sisi ini tengah menuju kemandirian dan mengendalikan aspek-aspek lainnya. Hal ini terjadi pada individu maupun masyarakat. Individu yang sudah mengalami pengembangan me­ngendalikan lingkungan batiniah maupun lahiriahnya. Arti dari perkembangannya adalah bahwa dia telah merdeka dari dominasi lingkungan batiniah maupun lahiriah, dan memiliki dedikasi kepada akidah dan agama.

Terjadinya evolusi masyarakat persis seperti terjadinya evolusi roh dalam alam tubuh, dan evolusi sisi manusiawi individu dalam alam sisi hewani individunya tersebut. Perkembangan masyarakat terutama berawal dari dampak sistem ekonomi masyarakat yang bersangkutan. Aspek budaya dan spiritual masyarakat sinonim dengan jiwa masyarakat bersangkutan. Karena tubuh dan jiwa saling mempengaruhi satu sama lain, maka antara sistem spiritual dan material juga terjadi saling hubungan yang sama. Kalau evolusi individu berarti individu tersebut berjalan menuju kemerdekaan, kemandirian dan supremasi jiwa yang semakin besar, maka evolusi masyarakat juga berarti seperti itu pula. Dengan kata lain, kalau suatu masyarakat semakin berkembang, maka kehidupan budayanya semakin tak bergantung pada kehidupan materialnya. Manusia masa depan merupakan manusia budaya dan manusia agama, akidah dan ideologi, bukan manusia ekonomi, manusia yang mengejar kenikmatan jasmani.

Tentu saja, semua ini bukan berarti bahwa masyarakat manusia secara tak terelakkan menapaki garis lurus menuju kesempurnaan nilai-nilai manusiawi, juga bukan berarti bahwa pada setiap tahap waktu selangkah lebih maju ketimbang tahap waktu sebelumnya. Boleh jadi manusia melewati tahap kehidupan sosial, di mana meski terjadi kemajuan teknik dan teknologi namun manusia mengalami kemunduran dari sisi spiritual dan moral, sebagaimana diklaim dialami oleh manusia pada zaman kita.

Sesungguhnya, dari sudut pandang material dan spiritual, manusia pada umumnya tengah berjalan ke depan. Akan tetapi, gerakan spiritualnya tidak selalu di garis yang lurus. Gerakan tersebut terkadang berhenti, terkadang balik ke belakang, dan terkadang menyimpang ke kanan dan ke kiri. Namun, pada umumnya merupakan suatu gerakan evolusioner ke depan. Itulah sebabnya kami katakan bahwa manusia masa depan merupakan manusia budaya, bukan manusia ekonomi, dan manusia masa depan merupakan manusia agama, akidah dan ideologi, dan bukan manusia yang mengejar kenikmatan jasmani.

Menurut teori ini, aspek-aspek manusiawi pada diri manusia —karena aspek-aspek tersebut fundamental— berkembang mengikuti berkembangnya alat-alat produksi dan bahkan berkembang sebelum berkembangnya alat-alat produksi. Menyusul perkembangannya, aspek-aspek manusiawi manusia berangsur-angsur mengurangi ketergantungan manusia kepada lingkungan natural dan sosialnya, dan mengurangi kesetujuannya kepada kondisi lingkungan. Maka kemerdekaan yang didapat membuat manusia semakin kuat dedikasinya kepada agama dan ideologi, dan meningkatkan kapasitasnya mempengaruhi lingkungan natural dan sosialnya. Kelak, setelah memperoleh kemerdekaan seutuhnya, manusia kemudian menjadi semakin kuat dedikasinya kepada agama dan ideologi.

Di masa lampau, manusia kurang mendapat manfaat dari pemberian alam dan belum mampu memanfaatkan sepenuhnya kemampuan-kemampuannya sendiri. Dia menjadi tawanan alam dan tawanan sisi hewaninya sendiri. Namun di masa depan manusia lebih mampu memanfaatkan pemberian alam dan kemampuan-kemampuan yang menjadi sifat manusia itu sendiri. Maka, untuk sebagian besar, manusia akan terbebaskan dari tawanan alam dan tawanan kecenderungan hewaninya sendiri, dan pengendaliannya atas alam dan dirinya pun semakin besar.

Menurut pandangan ini, meskipun realitas manusia muncul bersama dengan alam evolusi material dan hewaninya, namun realitas ini sama sekali bukan merupakan cermin dari—dan tunduk kepada—perkembangan materialnya. Itu adalah sebuah realitas yang independen dan progresif. Sekalipun dipengaruhi oleh aspek material, namun realitas ini mempengaruhinya juga. Yang menentukan tujuan akhir manusia adalah evolusi budayanya dan realitas manusiawinya, bukan evolusi alat-alat produksi. Adalah realitas manusiawi yang dalam evolusinya menyebabkan alat-alat produksi berkembang bersama berkembangnya urusan lain manusia. Tidak betul bila perkembangan alat-alat produksi terjadi secara otomatis, dan bila sisi manusiawi manusia mengalami perubahan akibat berubahnya alat-alat yang mengatur sistem produksi.


--Ringkasan Bab1 Manusia Dan Alam Semesta, Murtadha Muthahhari

Friday, May 7, 2010

Syair Mustafa Chamran untuk istrinya Ghadeh

“Ya Allah! Aku memohon satu hal dariMu dengan penuh ketulusan;

Jadilah engkau pelindung bagi Ghadeh

dan janganlah Engkau membiarkannya sendiri.

Setelah kematianku, kuingin melihatnya terbang

Ya Allah! Kuingin sepeninggalku Ghadeh tidak berhenti melangkah diatas jalur kebenaran

Kuingin ia memikirkanku bak sekuntum bunga indah yang tumbuh di jalan kehidupan dan kesempurnaan

Kuingin Ghadeh memikirkanku seperti sepotong lilin-lemah-kecil yang menyala dalam keselapan hingga akhir hayatnya,

dan dia beroleh manfaatnya dari cahayanya untuk masa yang singkat

Kuingin dia memikirkanku sebagai angin surgawi yang berembus dari langit,

yang membisikkan di telinganya kata-kata cinta dan pergi menuju kata tanpa batas

Thursday, May 6, 2010

Munajat Imam Ali Zainal Abidin, Cucu Rasulullah SAW

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

(1) Ilahi
Apakah orang yang t’lah mencicipi manisnya cinta-Mu
akan menginginkan pengganti selain-Mu
Apakah orang yang t’lah bersanding di samping-Mu
akan mencari penukar selain-Mu

(2) Ilahi
Jadikan kami di antara orang yang Kaupilih
untuk pendamping dan kekasih-Mu
yang Kauikhlaskan untuk memperoleh cinta dan kasih-Mu
yang Kaurindukan untuk datang menemui-Mu
yang Kauridhakan (hatinya) untuk menerima qadha-Mu
yang Kauanugerahkan (kebahagiaan) melihat wajah-Mu
yang Kaulimpahkan keridhaan-Mu
yang Kaulindungi dari pengusiran dan kebencian-Mu
yang Kaupersiapkan baginya kedudukan siddiq di samping-Mu
yang Kauistimewakan dengan makrifat-Mu
yang Kauarahkan untuk mengabdi-Mu
yang Kautenggelamkan hatinya dalam iradah-Mu
yang Kaupilih untuk menyaksikan-Mu
yang Kaukosongkan dirinya untuk-Mu
yang Kaubersihkan hatinya untuk (diisi) cinta-Mu
yang Kaubangkitkan hasratnya akan karunia-Mu
yang Kauilhamkan padanya mengingat-Mu
yang Kaudorong padanya mensyukuri-Mu
yang Kausibukkan dengan ketaatan-Mu
yang Kaujadikan dari makhluk-Mu yang saleh
yang Kaupilih untuk bermunajat pada-Mu
yang Kauputuskan daripadanya segala sesuatu
yang memutuskan hubungan dengan-Mu

(3) Ya Allah
Jadikan kami di antara orang-orang yang
kedambaannya adalah mencintai dan merindukan-Mu
nasibnya hanya merintih dan menangis
dahi-dahi mereka sujud karena kebesaran-Mu
mata-mata mereka terjaga dalam mengabdi-Mu
air mata mereka mengalir karena takut pada-Mu
hati-hati mereka terikat pada cinta-Mu
Kalbu-kalbu mereka terpesona dengan kehebatan-Mu
Wahai Yang cahaya kesucian-Nya bersinar dalam pandangan para pen¬cinta-Nya
Wahai Yang kesucian wajah-Nya membahagiakan hati pada pengenal-Nya
Wahai Kejaran Kalbu para perindu
Wahai Tujuan Cita para pecinta

Aku memohon cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu
dan cinta amal yang membawaku ke samping-Mu
Jadikan Engkau lebih aku cintai daripada selain-Mu
Jadikan cintaku pada-Mu membimbingku pada ridha-Mu
kerinduanku pada-Mu mencegahku dari maksiat atas-Mu
Anugerahkan padaku memandang-Mu
Tataplah diriku dengan tatapan kasih dan sayang
Jangan palingkan wajah-Mu dariku
Jadikan aku dari penerima anugerah dan karunia-Mu
Wahai Pemberi Ijabah, ya Arhamar-Rahimin

Munajat ini adalah munajat Para Pecinta Allah, munajat Imam Ali Zainal Abidin (sa), cucu Rasulullah saw. (As-Shahifah As-Sajjadiyah, Munajat ke 9: 296)

Sumber dari Khadija Soezmann dari Syamsuri Rifai.