Masih inget
Boarding di Bandara Cengkareng jam 10. Pesawat Adam-Air, terminal B2. Jadwal Take-off jam 11.30.
Boarding pass nomer 25 Tempat duduk bernomer 25, untuk pesawat jet Boieng 737, itu berarti gwrsi paling belakang. Jika ada nomer 26, pastilah kursi itu sudah berada di dalam toilet. Sodara gw sempat bilang, “wah, bakal berisik nih”.
Masuk kabin, kami berlima dengan sekitar 10 tas dan bawaan yang dibawa masuk. Termasuk airsoftgun yang karena nggak ada lagi tempat, terpaksa diletakkan di bawah kaki gw. Duduk di kursi belakang sungguh nggak menyenangkan, diperparah lagi dengan nggak adanya lubang jendela di sebelah. Untunglah gw duduk di sisi gang, dimana pramugari lalu lalang hilir mudik. Nggak ada yang spesial, semua biasa saja, tapi lumayanlah buat pengusir bosan.
Pesawat take off. Sodara gw benar - benar sangat berisik buanget. Bahkan susah untuk sekedar ngobrol.
Setelah hampir 2 jam take off, rasa bosan berganti rasa kantuk yang amat tuk tuk tuk. Sebenarnya gw nggak tahu sudah berapa lama, handphone sebagai petunjuk waktu dimatikan karma disuruh sama pramugari nya, yang jelas sudah terasa lama sekali. Rombongan gw sudah terlelap semua, gw gak bisa memejamkan mata, jadi kembali ke rasa bosan yang teramat sangat dasyat. Berbagai macam cara sudah dicoba, baca kompas, baca koran tempo, baca FHM, bahkan makan pisang goreng bawaan dari rumah, tapi tetap saja bosan. Pramugari tetap hilir mudik: mengantarkan makanan, mengambil sampah (bukan si *k**u ya teman – teman), dan menjajakan dagangan (souvenir). Tapi mungkin karena gw tipe pria yang bodo amatan, gw nggak begitu memperhatikan mereka seperti halnya ketika baru masuk kabin. Berita mogok kerja karyawan PT. Kereta Api di Koran Tempo dan foto - foto Karen Price di majalah lebih menarik perhatian gw.
Tiba-tiba ada pengumuman dari ruang kemudi, seperti biasa suara pilot nggak terdengar jelas.
Pertanyaan pertama dan kedua begitu mudah, apalagi bagi penggemar milis seperti gw. Tapi metode “ngacung if you know the answer” membuat gw susah mendapat bagian menjawab, sekali lagi karena tempat duduk yang di ujung belakang. Giliran pertanyaan ketiga, “apa perbedaan profesor teknik dan profesor sejarah?”, tetap sambil membaca koran angkat tangan kanan gw. Lah, ternyata satu kabin yang angkat tangan cuma gw. Pramugari-pramugari menyambut gw dan membimbing gw (halah) ke depan, ke arah pilot yang berulang-ulang bilang “wah, masih SMA nih kayaknya, ganteng sekali, ayo silahkan maju kesini…”
Jam gratisan dari Adam Air Jawabannya jelas, profesor teknik botak di depan, profesor sejarah botak di belakang. Seharusnya semua orang tahu teka-teki basbangnyol (basi banget dan konyol) itu. Intinya, gw mendapatkan jam dinding Adam Air sebagai souvenir. Sebenarnya pas penyerahan hadiah gw minta cium pramugari, biar kayak di tivi-tivi. Tetapi mungkin karena faktor asusila, wanita-wanita itu dengan sekuat tenaga berusaha menolak dengan sopan. Nggak apa-apa, sudah biasa, bukan rejeki namanya. Tapi seenggaknya di tengah carut marut Adam Air gw sempet lah dapet untung nya.
No comments:
Post a Comment