Pages

Tuesday, May 1, 2007

Demi Identitas Sekuler Turki

Akhir nya di tulisan kali ini gw berkesempatan untuk memberikan sedikit info yang cukup berguna bagi para teman dan pembaca setia blog gw tentang hal - hal yang menyangkut kehidupan beragama di sebuah negara. Tulisan yang bakal gw taruh di postingan gw kali ini bersumber dari salah satu teman yang bisa dikatakan memiliki banyak info dan up to date mengenai permasalahan seperti ini. Dialah bernama Babe Aboed!

Demi Identitas Sekuler Turki

Haekal mencium patung dada Mustafa Kemal Attaturk yang terpajang di sudut jalan tempat tinggalnya. Sesaat kemudian, dia bergegas untuk bergabung dengan ribuan massa menuju pusat kota Ankara, ibu kota Turki. Tujuannya sama, menentang pencalonan Perdana Menteri Rechep Tayyip Erdogen yang dianggap mereka terlalu shaleh.

Terlalu shaleh? Adakah yang salah dengan tokoh yang dianggap terlalu relijius? Kita tengok sejenak sejarah Turki. Sejak Mustafa Kemal Attaturk, jenderal yang mendirikan Republik Turki dengan meruntuhkan Kesultanan Turki Usmani, Attaturk dengan tegas memisahkan agama dan politik di negara yang dia bentuk. Ideologi ini sudah harga mati di Turki. Bertahun-tahun, Turki mengusung prinsip itu.

Sekarang perdana menteri Erdogan yang dianggap religius itu, adalah calon kuat yang bakal menduduki kursi presiden. Perkembangan ini membuat sejumlah pihak takut bahwa identitas Turki sebagai negara sekuler, akan terancam. Itulah yang membakar semangat Haekal dan warga masyarakat yang sekubu dengan dia menggelar unjuk rasa. Massa sekitar 300 ribu orang menyuarakan hal sama: meminta agar perdana menteri Erdogan tidak mencalonkan diri sebagai presiden.

Demo itu bukan kali pertama. Sebelumnya, silang pendapat bertebaran di banyak media lokal. Suara keras datang dari kubu yang berseberangan dengan Erdogan. Para lawan politiknya menuduh Erdowan memiliki agenda berbau Islami, walau sang perdana menteri sudah membantah tuduhan itu.

Partai yang dipimpin Erdogan memang berazaskan Islam. Kalau partai ini menguasai lembaga kepresidenan, orang-orang seperti Haekal takut pada akibatnya. Walaupun ketika ditanya lebih lanjut tentang ketakutannya, banyak yang gagal mengurainya secara gamblang. "Saya takut kalau dia menjadi presiden. Saya rasa mereka berbahaya," kata Arzu, seorang warga, seperti dilansir situs BBC.

Seperti apa bahayanya, Arzu hanya bisa berasumsi. "Kalau mereka mendapat kekuasaan lebih besar, mereka tidak akan seperti sekarang. Mereka tidak akan menghormati saya seperti saya menghormati mereka," tandas Arzu. Sementara itu, salah seorang teman Arzu, Yasheem takut bahwa kalau Erdogan menjadi presiden, Turki akan menjadi negara Islam. "Lihat saja Iran dan Aljazair," kata Yasheem . Yasheem yakin, dalam lima atau enam tahun negara-negara itu akan berubah. "Keadaan seperti itu bisa terjadi di mana saja. Ini serius, kita harus hati-hati," katanya.

Namun harian Del Spiegel yang terbit di Jerman memotret fenomena yang dianggap mencemaskan ini. Tulisan mereka diawali dengan apa yang mereka saksikan di Hotel Sah Inn Suite di Alanya, sebuah resort wisata negara itu. Turis lokal tertelanjang dada berenang di kolam yang kebiruan. Ada yang aneh? Ya, menurut Del Spiegel, karena semua turis adalah laki-laki. Tempat ini terlarang bagi perempuan. Para wanita berenang di kolam tersendiri yang tertutup rapat.

Bagaimana dengan bir? Lupakan. Sudah sejak beberapa tahun ini hotel ini tidak menyediakan alkohol bagi tamu-tamunya. Sebuah mushala kecil kini mendiami salah satu lantainya. Jalan berbatu harus dilalui Turki untuk menjadi bagian Uni Eropa, fenomena ini makin menambah terjal jalan yang harus dilalui Turki, begitu tulis media ini. Harian lokal The Cumhuriyet juga pernah menuliskan laporan serupa tentang penyerangan terhadap wanita berpakaian mini di jalanan dan penangkapan seorang perempuan yang berpakaian sangat ketat. Laporan harian ini menyeret kembali perdebatan, kali ini di jalur media.

Benarkah Turki makin bergerak ke arah negara Islam setelah Erdogan berkuasa? Menurut laporan BBC, Meski Partai Justice and Development Party (dalam bahasa setempat Adalet ve Kalkinma Partisi, disingkat AK) yang dipimpin Erdogan sudah lima tahun berkuasa, tidak ada tanda-tanda bahwa Turki semakin relijius. Berbagai jajak pendapat menunjukkan bahwa jumlah wanita berjilbab sekarang berkurang dan kehidupan berjalan normal seperti biasa. Betul bahwa Erdogan memegang teguh agamanya, namun tidak serta merta haluan politik negaranya juga berubah.

Misalnya saja, di bawah pemerintahan Erdogan, urusan agama diatur dengan birokrasi yang ketat. AK mempunyai kebijakan khusus tentang ini, yang pada prinsipnya adalah memberi ruang untuk agenda agama, namun juga menciptakan keseimbangan baru dengan sekularisasi". Itu sebabnya, Direktorat Agama yang berada di bawah Kementerian Agama mengawasi dengan ketat kehidupan beragama. Sebanyak 70 ribu imam di Turki harus melaporkan semua kegiatannya ke lembaga ini. Isi khutbah Jumat harus dilaporkan temanya sehari sebelumnya dan dilarang berisi pidato yang menebarkan kebencian dan harus menyuarakan toleransi dan Islam moderat.

Tak semua rakyat Turki menentang pencalonan Erdogan. Hayri Engin -- warga Istambul, kota asal Erdogan -- misalnya, sangat yakin bahwa Perdana Menteri Erdogan adalah tokoh yang merakyat dan tidak akan mengubah apapun yang sudah menjadi dasar negara. "Turki adalah negara yang sudah konservatif, jadi tidak akan mundur lagi," katanya.

Menurut Hayri, selularisme tidak akan terancam keberadaannya di Turki, andaipun Erdogen berkuasa. "Tuhan akan memberi Erdogan kedudukan yang yang menjadi haknya," katanya. Tetapi banyak golongan yang tetap tidak yakin. Dan, pada hari Sabtu golongan sekuler melakukan unjuk kekuatan dalam rangka menghalangi Erdogan menjadi presiden. Namun perjuangan Erdogan belum berakhir. tri/bbc/del spiegel

Setelah gw membaca tulisan di atas ternyata sedih juga ya kalo gw jadi warga negara turki (misal nya doang). Begini aja, di sekolah sama guru PKN di ajarkan dimana negara dapat berkembang dan berjalan dengan baik serta sesuai tujuan apabila dalam menjalan kan kenegaraan nya para aparatur negara berpegang teguh pada pancasila yang di dalam nya terkandung nilai - nilai keagamaan.

Dapat dikatakan negara yang beragama setidak nya dapat menjalan kan pembanguna negaranya, menjalin hubungan diplomatik, melakukan kegiatan ekonomi sesuai nilai - nilai agama yang luhur. Yang artinya adalah segala kegiatan di berbagai bidang akan berjalan dengan baik karna di dalam nya terkandung nilai - nilai agama. Disini gw pun tidak menyinggung mana agama yang benar namun setidak nya negara berjalan dengan tuntunan agama. Agama sebagai petunjuk hidup dan pelita orang - orang yang beriman.

Enggak munafik gw kalo ada kawan debat yang bilang ke gw, bawasanya negara yang kebetulan sukses dan berkembang bukan merupakan negara yang beragama. Dan negara yang dia bilang susah berkembang adalah negara yang beragama. Namun menurut pandangan gw, setidak nya mereka yang menjunjung tinggi nilai - nilai agama nya walau pun mereka dikatakan tidak berkembang oleh para sekuler memiliki sebuah kebahagiaan yang tidak di dapat oleh mereka yang menjunjung tinggi sekulerisme. Karena kehidupan tidak hanya mengejar sebuah materi seperti yang di junjung tinggi oleh mereka yang merasa agama tidak boleh disatukan dengan kegiatan bernegara.

Contoh nya begini saja, misalkan ada sebuah negara yang sulit berkembang dan dikucilkan oleh negara - negara non beragama. Akhirnya negara ini perekonomian sosial dan perkembangan negara yang lain - lain nya pun lambat berkembang, namun bagi negara beragama ini bukan suatu masalah untuk mereka menanggalkan akidah nya demi kesuksesan sebuah negara melainkan sejauh mana mereka dapat memain kan peran bernegara dengan tetap berpegang teguh pada keimana mereka. Tentu hal tersebut bisa dikatakan sebuah nilai yang luhur, karena sekali lagi hidup ini tidak hanya mengejar kepuasan materi belaka.

Akhir kata, buat para teman - teman (ini lingkup kecil saja, bukan bernegara) yang sedang berjuang dan hidup di negri orang tetap lah kalian memegang teguh agama kalian entah kalian kesulitan saat menjalankan kegiatan beragama kalian dikarenakan jadwal ataupun kelas yang bertepatan dengan waktu ibadah namun ibadah dan agama tidak dapat digantikan dengan materi. Yang bisa di artikan bahwa tetap lah berpegang teguh terhadap apa yang telah di ajarkan oleh orang - orang terdahulu kalian. Jangan seperti tulisan di atas tentang negara turki (maaf nih ya turki jangan marah!) alih - alih ingin masuk anggota uni eropa sampai - sampai menanggal kan kehidupan beragama dalam kehidupan beragama. Terimakasih pula pada Babe Aboed yang banyak memberi masukan dan memperkuat iman kepada Tuhan yang maha Esa.


No comments: