Ini kisah tentang si Thukul, umurnya 20-an tahun. Dia tinggal bareng ditengah keluarga besar yang hidup berdempet - dempetan dalam sebuah rumah yang sudah sangat tua. Di dalam rumah itu ada kakek - nenek,paman - bibi, dan kemenakan - kemenakan, selain adik dan kakak serta orang tuanya sendiri. Semua orang dewasa dalam rumah itu tidak memiliki pekejaan tetap. Singkatnya rumah tua itu berisi orang - orang dewasa dan anak - anak yang hidup serba kekurangan.
Beruntunglah si Thukul. Pak Maslan, teman ayahnya yang tahu keadaannya, meminta Thukul menjadi pelayan di kantornya. Mula - mula Thukul menolak tawaran tersebut, tapi setelah nama pelayan kantor diganti menjadi Office Boy, Thukul menerimanya dengan gembira.
Gaji Thukul hanya Rp. 300 ribu. Maklum lah, Pak Maslan cuma pengusaha kecil. Dalam perkiraan Pak Maslan Gaji Thukul dapat untuk membeli 75 Kg beras bagi keluarganya Thukul. Memang belum mencukupi tapi setidaknya dapat mengurangi beban keluarga besar Thukul yang miskin. Namun perkiraan Pak Maslan meleset jauh.
Setelah menerima gaji pertama di akhir bulan, Thukul tidak membeli beras sedikitpun. Dia malah pergi membeli HP. Memang HP yang dibeli adalah HP bekas, yang penting HP. Aneh nya keputusan Thukul didukung oleh ayah nya. Ayah yang miskin ini bercerita dengan bangga kepada tetangganya bahwa Thukul sekarang sudah hebat, sudah dapat membeli HP!
Pak Maslan akhirnya tahu apa yang dilakukan oleh Thukul atas gaji pertamanya. Ketika Pak Maslan suatu saat bertemu saya, Pak Maslan dengan kecut menceritakan semua nya. "Semula saya sungguh berharap Thukul dapat membantu keluarganya dengan membeli makanan untuk bertahan hidup. Eh yang dibeli malah HP!". Mendengar keluhan Pak Maslan saya hanya bisa mengangkat alis.
"Sangat ironis, penghasilan yang diterima Thukul tidak memperbaiki keadaannya, malah membuat dia dan keluarganya menjadi lebih miskin," tambah Pak Maslan dengan wajah serius. "Lihat lah keluarga itu sekarang tidak hanya membutukan makanan untuk bertahan hidup yang belum mencukupi. Kini mereka juga butuh pulsa yang sesungguhnya belum kebutuhan dasar mereka."
Ya mungkin karena rayuan iklan di media masa, orang - orang miskin tergiring untuk membeli produk yang boleh saja mereka inginkan tapi sesungguhnya belum mereka butuhkan. Namun karena rayuan iklan yang terus menerus melalui berbagai media terutama TV, produk - produk yang baru mereka inginkan berubah menjadi kebutuhan. Wish mereka telah berubah menjadi need. Bahkan barang - barang konsumsi itu juga sudah disulap menjadi simbol status sosial alias gengsi.
Dengan merasuknya pengaruh iklan seperti hal diatas sehingga anak miskin seperti Thukul merasa benar ketika dia memilih membeli HP daripada beras yang sesungguh nya adalah kebutuhan nomer satu. Ayah nya juga mendukung keputusan Thukul karena HP yang di genggam anaknya adalah simbol kemajuan keluarga, jelas sangat ironis dan palsu.
Beruntunglah si Thukul. Pak Maslan, teman ayahnya yang tahu keadaannya, meminta Thukul menjadi pelayan di kantornya. Mula - mula Thukul menolak tawaran tersebut, tapi setelah nama pelayan kantor diganti menjadi Office Boy, Thukul menerimanya dengan gembira.
Gaji Thukul hanya Rp. 300 ribu. Maklum lah, Pak Maslan cuma pengusaha kecil. Dalam perkiraan Pak Maslan Gaji Thukul dapat untuk membeli 75 Kg beras bagi keluarganya Thukul. Memang belum mencukupi tapi setidaknya dapat mengurangi beban keluarga besar Thukul yang miskin. Namun perkiraan Pak Maslan meleset jauh.
Setelah menerima gaji pertama di akhir bulan, Thukul tidak membeli beras sedikitpun. Dia malah pergi membeli HP. Memang HP yang dibeli adalah HP bekas, yang penting HP. Aneh nya keputusan Thukul didukung oleh ayah nya. Ayah yang miskin ini bercerita dengan bangga kepada tetangganya bahwa Thukul sekarang sudah hebat, sudah dapat membeli HP!
Pak Maslan akhirnya tahu apa yang dilakukan oleh Thukul atas gaji pertamanya. Ketika Pak Maslan suatu saat bertemu saya, Pak Maslan dengan kecut menceritakan semua nya. "Semula saya sungguh berharap Thukul dapat membantu keluarganya dengan membeli makanan untuk bertahan hidup. Eh yang dibeli malah HP!". Mendengar keluhan Pak Maslan saya hanya bisa mengangkat alis.
"Sangat ironis, penghasilan yang diterima Thukul tidak memperbaiki keadaannya, malah membuat dia dan keluarganya menjadi lebih miskin," tambah Pak Maslan dengan wajah serius. "Lihat lah keluarga itu sekarang tidak hanya membutukan makanan untuk bertahan hidup yang belum mencukupi. Kini mereka juga butuh pulsa yang sesungguhnya belum kebutuhan dasar mereka."
Ya mungkin karena rayuan iklan di media masa, orang - orang miskin tergiring untuk membeli produk yang boleh saja mereka inginkan tapi sesungguhnya belum mereka butuhkan. Namun karena rayuan iklan yang terus menerus melalui berbagai media terutama TV, produk - produk yang baru mereka inginkan berubah menjadi kebutuhan. Wish mereka telah berubah menjadi need. Bahkan barang - barang konsumsi itu juga sudah disulap menjadi simbol status sosial alias gengsi.
Dengan merasuknya pengaruh iklan seperti hal diatas sehingga anak miskin seperti Thukul merasa benar ketika dia memilih membeli HP daripada beras yang sesungguh nya adalah kebutuhan nomer satu. Ayah nya juga mendukung keputusan Thukul karena HP yang di genggam anaknya adalah simbol kemajuan keluarga, jelas sangat ironis dan palsu.
No comments:
Post a Comment