Buat gw minggu ini menjadi minggu yang spesial karena sepekan terakhir ini temen - temen baek gw menyempatkan diri bahkan hampir tiap hari ke rumah atau kita jalan bersama untuk melepaskan penat. Rasanya seneng dan kayak nya ga mau ngelepasin kebersamaan ini. Kadang juga mikir mau bolos lama buat puas - puasin di jakarta (karena temen - temen gw rata - rata baru pada libur). Tapi gw punya tujuan yang harus gw selesaikan (studi gw di kampus).
Perasaan agak pilu tatkala gw liat kembali file di blog nya salah satu kawan baik gw. Perasaan dan yang sekarang gw alami sebetul nya pernah pula gw alami yaitu pada saat minggu - minggu terakhir gw dijakarta dan meninggalkan teman - teman serta para sobat, kerabat yang amat gw cintai bener - bener setulus hati, kagak bohong dan gak pake hiperbolla juga. Perasaan berat ditambah saat itu gw punya pacar yang harus gw tinggal (yang akhirnya putus juga / ga jadi di tinggal). Gw jadi inget dan belajar gimana harus ngelewati itu semua. Gw juga terinspirasi dari tulisan salah sobat lengket gw.
Ini bukan perpisahan, ini awal perjalanan kedepan.
Jakarta menangis tadi malam,
hujan lebat iringi perjalanan pulangan ku dari bandara.
selepas mengantar sahabat seperjuangan sejak SD pindah ke kota tujuan.
Mungkin ini yang dinamakan menentukan jalan hidup masing-masing,
semua kawan bergegas melanjutkan hidup di kota berbeda.
Ibu kota sepi tanpa kalian, bagai ruang kelas yang kosong di musim libur.
Tadi malam, sulit kupejamkan mata, terenyuh kalian pergi.
Kembali ke masa SD, 10 tahun silam, saat persahabatan baru saja ditanam.
6 tahun bersama tak terpisahkan, satu atap perjuangan menuju kedewasaan.
Berbeda sekolah di masa SMA bukan suatu halangan tuk terus berbagi.
Berbagi semua kisah dalam segala suasana hati.
Senang,murka,duka, semua terangkum di satu album potret kehidupan remaja.
Tak terlupakan.
Setiap hari yang kita lalui bersama,
saling menguatkan hadapi masa sulit kehidupan.
Sukar hadapi kenyataan esok dan lusa kita tak lagi bisa bersama.
Untuk kalian sahabat-sahabat sejati,
Selamat Jalan.
Sukses menyertai di hidup kalian kelak.
Air mata jatuh basahi hati saat kutulis tulisan ini.
Getir perpisahan harus kurasa juga.
Tulisan ini ungkapan terdalam untuk kalian semua,
Manggolo Yudho Perdana, Fakultas Hukum, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Muhammad Aziz, Agrobisnis, Universitas Brawijaya, Malang.
Hafiyyan, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, Jatinangor.
Dwinanto Setyo Prabowo, Teknik SIpil, Institut Teknologi Bandung.
Agill Agassi Tsalitsa, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Salemba.
Muhammad Fahri, Teknik Elektro, Universitas Trisakti, Jakarta.
Imam Fauzi, Administrasi Niaga, Universitas Atma Jaya, Jakarta.
Ummi Zara, Akademi Sekretaris Tarakanita, Jakarta.
Lidya Aprilia, Perpajakan FISIP Universitas Indonesia, Depok.
Muhammad Biondi, Multimedia University, Cyberjaya, Malaysia.
Rizka Amelia, Hubungan Internasional, Universitas Al-Azhar Indonesia, Jakarta.
Afiena, Universitas Al-Azhar Indonesia, Jakarta.
Mahda Kemala, Lim Kok Wing, Cyberjaya, Malaysia.
Mungkin benar,
Arti keberadaan baru bisa dirasakan dengan perpisahan.
Tapi ku yakin ini bukan perpisahan,
ini awal perjalanan hidup ke depan.
Selamat jalan kawan, sukses menyertai kalian.
Selalu kutungu kalian, sampai berjumpa lagi di Ibu Kota.
Atas nama rekan seperjuangan yang ditinggal di Ibu Kota Jakarta,
Arif Nindito
Kelas Internasional, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Depok.
NPM.0706257760
August 15, 2007 at 05:30 PM
Begitulah pesan dari sobat gw dan kalau dipikirkan lebih dalam, ini semua bukan perpisahan, tapi ini awal perjalanan panjang gw dan juga kawan - kawan semua. Adakalanya suatu hal dapat bertahan dalam waktu yang panjang, namun sampai pada batas tertentu pastinya akan mengalami hal yang namanya perpisahan atau kehilangan, begitu pula dengan perjalanan hidup ini. Gw pasti bakal merindukan kalian sangat.