Pages

Monday, January 9, 2012

Mengenal Salah Satu Aliran Dalam Islam

Thaufan Malaka

Dosen Universitas Andalas

Tulisan singkat ini dimaksudkan untuk menengahi mispersepsi berujung konflik antara Syiah-Sunni di Sampang, Madura, pada tanggal 29 November 2011. Secara intelektual kita seharusnya tak perlu takut dengan Syiah dan sebaiknya setiap muslim Indonesia membaca referensi Syiah yang benar agar dapat lebih memahami perbedaan perspektif untuk membangun silaturahmi keagamaan.

Siapa Syiah? Sesungguhnya muslim Indonesia tak terlalu tepat untuk menjelaskan Syiah sebab muslim Indonesia lahir dan belajar Islam sejak kecil dalam tradisi Syafi’i berteologi Asy’ari-Maturidi. Namun, sebagai upaya intelektual untuk mencapai kesadaran multikultural, siapa pun muslim di Indonesia yang kritis harus terpanggil untuk memberitakan dan mewacanakan Syiah sebagai korban kekerasan di Madura.

Syiah lebih lazim dikenal sebagai Ahlulbait yang mengacu kepada supremasi Keluarga Rasulullah Muhammad SAWW yang meyakini Islam dari perspektif Tauhid, Keadilan Illahi, Kenabian (Nubuwah-red), Kepemimpinan (Imamah-red), dan Hari Akhir (Eskatologi-red). Sejatinya, Syiah hanyalah salah satu perspektif dalam mengenali kejernihan Islam di antara beberapa perspektif lain, misalnya enam mazhab lainnya yaitu Syafii, Maliki, Hambali, Hanafi, Ibadi, dan Zahiri.

Pandangan saya didasarkan pada beberapa literatur asli Syiah, dan dialog yang pernah dilakukan dengan salah seorang penganut Syiah dari Iran. Syiah adalah perspektif Islam yang dinamis, rasional, dan politis. Dinamis dalam arti Syiah masih membuka pintu Ijtihad (bagi yang berhak berijtihad) dan sangat ketat dalam memegang prinsip Fikih Islam.

Dinamika ini membuat Syiah mampu melahirkan pakar-pakar Islam dari model pendidikan unik-tradisional-modern di berbagai bidang misalnya Filsafat, Teologi, Fikih, Hadis, dan Tafsir pada zaman sekarang. Silakan Anda berkunjung ke salah satu kota pendidikan bernama Qom di Iran maka Anda akan mendapatkan ratusan bahkan mungkin ribuan pakar dan calon pakar di bidang keilmuan Islam.

Revolusi Islam di Iran oleh Pemimpin Kharismatik Ayatullah Ruhullah Khomeini pada tahun 1979 hanya memantapkan Syiah di pentas politik modern, tetapi tradisi keilmuan Syiah sudah terbangun sejak beberapa abad yang silam.

Rasional maknanya Syiah dalam memahami Islam sangat memuliakan akal sebagaimana akal dalam perspektif para filsuf Islam misalnya Alkindi, Alfarabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina tempat akal adalah cahaya yang menerangi kegelapan. Sebagai misal, Syiah dalam memahami hukum Islam di zaman modern, para ahli hukum Islamnya yang dikenal sebagai Marja' menetapkan hukum secara rasional didasarkan Ilmu Keislaman yang luas, yang dipelajarinya hampir di sepanjang hidupnya.

Politis maksudnya Syiah sangat menyadari nalar sejarah manusia sebagai pentas politik antara Kebenaran (Alhaq) versus Kebatilan (Albatil) sehingga penganut Syiah memperjelas posisi keislamannya di pihak kebenaran untuk melawan kebatilan dan variannya. Dalam tiga dimensi ini, Syiah akan diterima oleh manusia hanif manapun dari perspektif Islam apapun.

Lantas kenapa Syiah di Indonesia dibenci dan dianggap sesat bahkan di Madura baru-baru ini salah satu pesantren Syiah dibakar? Pertanyaan ini bisa dijawab begini: pertama, Syiah memiliki nalar yang dinamis yang berbeda dengan nalar kebanyakan muslim Indonesia yang beraliran Fikih Syafi'i berteologi Asy'ari-Maturidi.

Jika ada muslim Syafi'i berteologi Asy'ari-Maturidi yang reformis-kritis berarti mereka generasi protestan muslim di Indonesia. Mereka boleh jadi membaca Filsafat Barat ala Marx-Foucault, menelaah pemikiran Islam kontemporer ala Abid Al Jabiri, Arkoun, Hassan Hanafi, atau bergabung dengan Gerakan Islam Internasional misalnya Ikhwanulmuslimin yang menjelmakan PKS/KAMMI atau Hizbuttahrir dsb.

Kedua, Syiah itu Rasional yang meninjau ulang asumsi-asumsi kebenaran teori keislaman. Asumsi ini pula meniscayakan Syiah menjadikan Keluarga Nabi (Ahlulbait) sebagai pemegang titah Islam absolut. Tentu saja, Islam itu kebenaran yang absolut secara doktrinal tetapi cara memahami Islam sangat relatif bagi muslim umumnya sehingga meniscayakan adanya Nabi (Kenabian) dan adanya Pemimpin Suci (Imamah) untuk menjelaskan absolutisme kebenaran Islam bagi yang meyakini.

Misalnya kebenaran Islam yang sejati harus diterima dari tangan yang suci sebab jika diterima dari tangan yang munafik walaupun hanya sebesar zarrah maka kebenaran Islam diragukan.

Ketiga, Syiah itu politis sehingga setiap kebatilan dalam semua wajahnya, apakah dalam bentuk manusia atau cara pandang yang zalim akan menjadi musuhnya. Hal ini juga untuk menjelaskan karakter Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad yang berpaham Syiah dalam menentang arogansi Amerika yang mengambil spirit dari simbol tertinggi politik Syiah yaitu Kesyahidan Imam Hussein (cucu nabi anak Ali-Fatimah yang menjadi Imam ke-4 dalam perspektif Syiah) yang menjemput kematiannya untuk menegakkan kebenaran hakiki politik dalam melawan kezaliman yang menjadi ingatan sejarah penganut Syiah sepanjang masa.

Keempat, Konflik Syiah-Sunni di Indonesia bisa dijelaskan sebagai kompetisi ekonomi-politik untuk memperebutkan supremasi simbol, sumber daya politik dan ekonomi. Jadi, isu kebenaran itu nomor dua. Tak lebih tak kurang.

Akhirnya, kondisi di atas hanya dapat dieliminir dengan dengan dialog dan komunikasi lintas mazhab yang diinisiasi oleh kalangaan reformis dan moderat dari kedua belah pihak, baik Sunni maupun Syiah untuk menjaga silaturahim antar mazhab dan penghargaan kemanusiaan.

Manusia muslim di Indonesia seharusnya tak usah resah dengan perspektif Islam yang beragam, justru itu adalah kekuatan Islam sebagai salah satu mata air pengetahuan dan kebijaksanaan hidup untuk semua manusia.


Dikutip dari Thaufan Malaka dengan sedikit perubahan.


Friday, January 6, 2012

Yang Seperti Apakah Manusia Yang Sempurna (Insan Kamil) Itu?


Kadang ketika kita berfikir, apa arti hidup ini, dan untuk apa tujuan kita diciptakan oleh Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan yang seperti ini kadang terlintas di benak gw. Orang bilang hidup itu tujuan nya adalah untuk bisa menjadi orang yang berguna, orang yang bermanfaat orang yang begini, orang yang begitu, jadi orang dan bla bla bla. Terus orang yang telah mencapai cita-citanya atau tujuan hidupnya yang berbeda-beda itu bisa dikatakan orang yang sempurna?

Di HMI gw sering denger orang bilang atau liat orang nulis di spanduk tema acara kegiatan, tentang suatu kata yang disebut, Manusia yang Sempurna atau dalam bahasa lainnya yang sering juga gw liat adalah Insan Kamil. Makna dari kata-kata ini yang kadang gw gak ngerti ngebawa gw untuk merefresh otak gw yang pas-pas-an ini untuk mengingat kajian-kajian yang pernah gw pelajari selama ber-HMI juga hal-hal yang pernah gw baca sebelum nya.

Berbicara mengenai manusia, baik itu manusia sempurna atau manusia-manusia lainnya (apa sih maksudnya!? -_-) tentu tidak lepas dari perbincangan seputar ciptaan dan pencipta. Yaitu manusia sebagai ciptaan dan Tuhan sebagai pencipta nya. Berbicara hal tersebut ketika kita ingin menjabarkan tentang konsep spesifik tentang manusia sempurna ini merujuk akan bagaimana konsep sang penciptanya itu sendiri, konsep disini tentang ke-Ada-an, dan Ke-Apa-an Tuhan.

Dalam bahasa yang sederhana yang gw berusaha untuk jabarkan, bahwa sejauh yang gw tau Tuhan itu secara ke-Ada-an atau secara eksistensi adalah satu atau esa, namun secara secara esensi (kalo gw gak salah) jumlahnya sangat banyak, untuk memahami ke-eksistensi-an Tuhan kita bisa memahami dengan ada nya ciptaan. Ciptaan merupakan tajali-tajali nya Tuhan atau merupakan manifestasi Tuhan.

Manifestasi Tuhan ini lah yang dapat kita lihat di dunia, termasuk diri kita sendiri merupakan tajaliyah Nya. Menurut pemahaman gw yang masih standart ini, manifestasi ini mungkin berupa cerminan untuk memahami eksistensi Nya, dimana semakin jernih cermin tersebut maka semakin jernih pula merefleksikan eksistensi dan esensi Nya.

Dalam kajian Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI bab 4 tentang Manusia dan Nilai-nilai Kemanusiaan, secara garis besar yang bisa gw pahami adalah bahwa manusia sebagai insan bukan sekedar basyar (jasad/fisik semata tapi merujuk kepada kerohaniannya) merupakaan ciptaan yang paling sempurna dimana manusia memiliki tingkatan-tingkatan jiwa yang lebih tinggi dari ciptaan Tuhan yang lain seperti hewan ataupun tumbuhan. Nah kesempurnaan manusia ini capai ketika manusia melakukan gerak dengan mengaktualisasikan potensi diri sebagai ciptaan yang paling sempurna menjadi sebuah output yang aktual berupa sikap tindak yang mencapai tingkatan sehingga manusia tersebut dikatakan sempura.

Karena dalam setiap ciptaan merupakan tempat atau wadah bagi Tuhan untuk menampakan diri Nya, maka bagi manusia yang mampu mencapai tingkat kesempurnaan Insan mampu untuk merefleksikan nilai-nilai dan sifat-sifat Ketuhanan. Adapun Intensitas perefleksian nilai-nilai dan sifat-sifat Tuhan pada masing-masing makhluk berbeda-beda dan bergantung dengan ikhtiar setiap diri untuk menerima refleksi keTuhanan.

Adapun manusia sempurna di dunia ini tentunya Nabi Muhammad SAWW (Salallahu wa alayhi wa Ali wa Salam) yang derajat spiritualnya tertinggi dibanding kaum muslim manapun. Namun manusia yang berusaha dan ber-Ikhtiar sehingga mencapai tingkat ketawkaan dan keimanan yang tinggi akan mampu untuk mencapai tingkat Insan Kamil (Manusia Sempurna) yang tingkatan nya berada dibawah Nabi Muhammad SAWW dan para Imam Ahlul Bayt.

Semoga gw termasuk dalam golongan yang mampu untuk mencapai hal tersebut, Amin Amin ya Rabbal Al amin. Allahuma Shali ala Muhammad wa Ali Muhammad.

Catatan

Apabila ada kesalahan dalam tulisan ini, maka datang nya dari keterbatasan pengetahuan saya, dan kebenaran hanya milik Allah SWT semata, semoga Ia selalu melimpahkan rahmat pada orang-orang yang telah memberikan ku pencerahan (walaupun tampak nya saya belum cerah-cerah amat nih -_-).

Thursday, January 5, 2012

Dua Wajah Syi'ah Yang Saling Bersebrangan

Quito R. Motinggo

However, while rituals are performed regularly,
values are either violated, neglected or practised mere symbolically.

~ Asghar Ali Engineer

Usai acara dialog mesra antara seorang ustadz Syi’ah dengan seorang ustadz Sunni di suatu tempat di bilangan Jakarta Selatan, salah seorang sahabat saya yang menjadi penyelenggara dialog tersebut menghampiri saya dan berkata dengan bangga kepada saya bahwa ia bersyukur telah menjadi seorang Syi’ah. Saya pun bertanya kepadanya, ”Syi’ah (pengikut setia) siapa?”

“Syi’ah Ali dong!”katanya lugas.

Saya bertanya lagi padanya, ”Bukankah orang-orang Ismaili atau Zaidi pun mengaku sebagai Syi’ah Ali? Dan bukankah orang-orang yang menentang Imam Khomeini pun mengaku sebagai Syi’ah Ali? Lalu Anda Syi’ah Ali yang mana?”

Sahabat saya agak sedikit bingung. Ketika sahabat saya masih mencari jawaban untuk pertanyaan saya itu, saya langsung teringat kata-kata Ashgar Ali Engineer, seorang intelektual muslim India, ia berkata, ”Bagaimana pun, ketika ritrual-ritual agama ditampilkan atau dilakukan berulang-ulang, nilai-nilainya justru dilanggar dan diabaikan atau dipraktikkan sebatas simbol-simbol belaka.” 1]

Kata “Syi’ah” sendiri sempat menjadi renungan saya beberapa waktu belakangan ini setelah melihat bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan dari Ahlul Bayt tentang karakteristik Syi’ah sedemikian “berat” dengan kenyataan yang saya lihat.

Coba saja Anda renungkan hadis di bawah ini :

Ayah Imam al-Mahdi as, Imam Hasan al-Askari berkata, “Syi’ah Ali as. yaitu orang-orang yang tidak takut mati syahid di jalan Allah, dan syi’ah Ali itu adalah orang-orang yang mementingkan saudara-saudaranya atas diri mereka sendiri walaupun mereka sendiri dalam keadaan sulit, mereka itulah orang-orang yang Allah tidak melihat mereka melanggar laranganNya dan mereka tiada mengabaikan perintah-perintahNya, dan syi’ah Ali itu ialah orang-orang yang mengikuti jejak Imam Ali as di dalam memuliakan saudara-saudaranya yang beriman.” (Bihar al-Anwar Jil. 68, hal.162- 163)

Dari satu hadis ini saja betapa tinggi karakater Syiah atau pengikut Ali sejati itu.

Dan dari sekian banyak hadis tentang karakter Syiah yang pernah saya baca, hampir seluruhnya menekankan akhlak mulia dan ibadah yang luar biasa kuatnya.

Jika saya sendiri bercermin dengan satu hadis di atas ini saja, saya tidak berani lancang mengaku-aku sebagai Syiah.

Di dalam kitab Tanbih al-Khawatir diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Imam Hasan bin Ali as seraya berkata kepada Imam : “Sesungguhnya aku dari syi’ahmu!” Imam Hasan bin Ali as justru menjawab : “Wahai hamba Allah! Jika engkau mengikuti perintah-perintah kami dan menjauhi larangan-larangan kami, maka benarlah pengakuanmu itu, namun jika engkau tidak seperti itu, maka tidak bertambah kemuliaanmu, malah justru bertambahlah dosamu atas pengakuanmu itu. Jangan kau berkata aku dari syi’ahmu, tetapi katakanlah : “Saya orang yang mengikutimu, mencintaimu dan memusuhi musuh-musuhmu.” maka engkau berada di dalam kebaikan dan menuju kepada kebaikan.” (Tanbih al-Khawatir hal. 348)

Saya juga teringat peristiwa ‘Asyura, atau Tragedi Karbala, yang banyak dicatat dalam banyak kitab. Pada kejadian tersebut ada 2 tipe Syi’ah Husain yang keduanya saling berseberangan, yang pertama saya sebut sebagai Syi’ah Formal dan yang kedua Syi’ah Orisinal. Ada 12.000 sampai 18.000 orang di Kufah mewakili Syi’ah yang pertama. 2]

Mereka adalah para senior Syi’ah, atau orang yang banyak mengetahui dan mengamalkan ajaran-ajaran Syi’ah secara detail atau formal. Mereka punya gaya hidup sendiri dan amal ibadah yang sedikit berbeda dengan kebanyakan orang.

Mereka inilah yang melayangkan surat pernyataan janji setia (bai’at) dengan semangat yang menggebu-gebu kepada Imam Husain as. Bisa jadi mereka juga menyatakan kesediaan mereka untuk mati syahid demi sang Imam. Mereka datang berbondong-bondong untuk berbaiat kepada Muslim bin ‘Aqil yang ditunjuk sebagai wakil Imam Husain.

Namun, selang tidak berapa lama –- menurut sebuah riwayat tidak sampai seminggu -– mereka malah meninggalkan Muslim bin ‘Aqil seorang diri ketika pasukan Ubaidillah bin Ziyad datang ke Kufah. Sekejap saja nyali mereka ciut begitu mendengar ancaman Ibn Ziyad yang akan membunuh isteri, anak-anak dan membumihanguskan tempat tinggal mereka.

Janji setia mereka menguap bersama embun yang ditimpa cahya mentari.

Bahkan ketika Ibn Ziyad menjanjikan kepada mereka dengan impian-impian duniawi, maka semua yang pernah mereka nyatakan di dalam bai’at pupus dari ingatan mereka. Sampai-sampai ketika mereka dipaksa dan digiring ke Karbala untuk bergabung dengan pasukan Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash segenap kesadaran insani mereka pun lenyap.

Ini tentu saja bertolak belakang dan berseberangan dengan Syi’ah Orisinal. Ada 2 macam Syi’ah Orisinal. Yang pertama adalah orang-orang yang sama seniornya dengan orang-orang di Kufah. Perbedaannya, mereka ini senantiasa bersama Imam Husain kemana pun Imam pergi. Ada semacam bentuk cinta yang bisa diungkapkan dengan kata-kata : ”Saya tak bisa hidup jika sehari saja tak melihat Anda”.

Ungkapan seperti ini bukan ungkapan klise, karena ada beberapa sahabat Nabi yang apabila hati mereka sumpek mereka datang menemui Nabi Saw untuk sekadar melihat wajah sang Nabi yang mereka cintai. Mereka mengatakan kepada Rasulullah, ”Kepenatan dan kesusahan yang ada dalam hati saya hilang begitu saya melihat Anda, wahai Rasulullah!”

Ketika orang-orang Kufah sedemikian takut apabila isteri, anak-anak dan harta mereka dimusnahkan pasukan Ibn Ziyad, sebaliknya orang-orang berwajah Syi’ah Orisinal pertama ini yang ketika Imam Husain meminta mereka meninggalkan Imam beserta keluarganya, mereka bahkan menolak. Sebenarnya, andai saja mereka meninggalkan Imam Husain, Imam pun akan memaafkan dan memaklumi mereka. Namun mereka justru berkata, ”Kami tidak akan membiarkan Anda sendirian…dengan kata-kata apa kami sanggup meminta maaf kepada kakek (Rasulullah), ibu dan ayahmu….Andai pun kami terbunuh lalu dihidupkan kembali, maka kami akan tetap berperang hingga terbunuh lagi. Bahkan hingga 70 kali terbunuh pun kami takkan meninggalkan Anda, apalagi kenyataannya mati hanya sekali!” 3]

Mereka ini memang orang-orang yang dididik langsung oleh Ahlul Bait Nabi. Berbeda dengan yang pertama, wajah Syi’ah Orisinal kedua justru bukanlah orang-orang Syi’ah pada awalnya. Mereka tidak sedikit pun mengerti ajaran-ajaran Syi’ah, apalagi ritual-ritualnya, akan tetapi mereka memiliki nilai dan esensi Syi’ah yang sama kuatnya dengan yang pertama. Meminjam istilah Imam Ja’far as dan Zainab al-Kubra, ”Mereka berasal dari tanah-tanah Ahlul Bait!”.

Mereka ini diwakili oleh Zuhair bin Al-Qain Al-Bajli, Al-Hurr bin Yazid ar-Riyahi dan seorang pastur Nashrani yang sempat meminjam kepala Imam Husain yang suci untuk dibersihkan dan dimandikan.

Mengenai Zuhair bin Al-Qain Al-Bajli, pada mulanya ia seorang pengikut Utsmani yang fanatik, ia menganggap bahwa khalifah Utsman terbunuh dalam keadaan dizalimi. Ketika Imam Husain berangkat dari Makkah menuju Kufah, mereka membuntuti kafilah Imam Husain dengan sangat hati-hati.

Sampai di suatu tempat, Imam berkemah beserta keluarga dan pengikutnya, begitu pun Zuhair beserta keluarga dan sukunya berkemah tidak jauh dari tempat perkemahan Imam. Imam yang sejak awal mengetahui bahwa ia dibuntuti Zuhair, akhirnya mengundang Zuhair untuk makan malam bersama. Zuhair sempat terkejut, sementara isterinya yang notabene memang pencinta dan pengikut Ahlul Bait mendorongnya untuk menghadiri undangan istimewa tersebut.

Sebelum bertemu muka dengan wajah mulia sang cucu Nabi, tidak sedikit pun terbetik di dalam hatinya untuk turut berjihad membela Imam Husain. Tetapi begitu ia melihat wajah suci putra Fathimah yang tinggal satu-satunya ini hatinya kepincut, seluruh jiwa raganya terbakar cinta yang luar biasa dahsyat.

Mungkin ia sendiri merasa heran, darimana munculnya energi gaib ini sehingga ia berkata kepada isterinya, ”Wahai isteriku, aku sekarang menceraikanmu, pulanglah, aku tidak ingin ada musibah yang menimpamu” 4]

Di Karbala, Zuhair syahid setelah membunuh 120 orang-orang musuh-musuh Imam Husain as. 5]

Ajaib! Inikah yang dikatakan hati yang langsung terbalik atau qallibal qulub? Begitu cepatnya kebencian berbalik menjadi cinta sebagaimana cinta berbalik menjadi benci! Ada pun mengenai al-Hurr, saya ingin memberikan sebuah pendahuluan mengenai 4 tipe manusia ditinjau dari kemerdekaan fisik dan spiritualnya.

Yang pertama adalah manusia yang tidak merdeka secara fisik maupun secara ruhani. Mungkin contoh yang paling tepat adalah berkenaan dengan seorang budak yang bernama Wahsyi. Ketika perang Uhud sedang berkecamuk, Wahsyi menerima tawaran Hindun, isteri Abu Sufyan, untuk mendapatkan kebebasan (fisik)-nya untuk membunuh manusia yang paling dicintai Allah dan Rasul-Nya, yaitu, Hamzah bin Abdul Muthalib. Walau pun Wahsyi berhasil membunuh Hamzah, paman Rasulullah dan mendapatkan kemerdekaan fisiknya, namun penyesalan yang mendalam membelenggunya sampai akhir hayatnya. Beberapa tahun kemudian, ketika Makkah akhirnya ditaklukkan kaum Muslim, penduduk Makkah mendapat amnesti umum. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Wahsyi. Ia pun bersegera datang menemui Rasulullah saww. Rasulullah mengampuni Wahsyi, namun Rasulullah saww bersabda kepadanya, ”Jangan lagi engkau tampakkan wajahmu sejak hari ini!”

Thomas Szasz mengatakan, “Orang yang bodoh tidak memberi maaf dan juga tidak melupakan. Orang yang naif memberi maaf dan melupakan. Tetapi orang bijak, memaafkan tetapi tidak melupakan” 6]

Jenis manusia yang kedua, adalah manusia yang fisiknya menjadi budak tetapi jiwanya merdeka dan yang ketiga sebaliknya. Contoh mengenai hal ini adalah Nabi Yusuf as dan Zulaikha, isteri majikannya.

Al-Qur’an mengatakan, “Dan wanita-wanita di kota berkata,“Istri Al Aziz menggoda pelayannya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada pelayannya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya Kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.” (QS Yusuf [12] ayat 30)

Imam Muhammad al-Baqir as menjelaskan ayat tersebut di atas, “Sungguh cintanya (Zulaikha) kepada Yusuf telah menutup (menghijab) pandangannya dari manusia sehingga akal pikirannya tidak berfungsi. Hijabnya itu adalah cintanya yang sangat mendalam kepada Yusuf dan cinta yang sangat mendalam itulah yang menghijab (menutupi) hatinya”. 7]

Zulaikha tak sadar telah menjadi budak dari cintanya yang semu itu. Betapa banyak orang yang secara fisik bebas merdeka tetapi jiwanya terbelenggu dan menjadi budak ego serta hawa nafsu. Sebaliknya banyak orang yang menjadi budak secara fisik tetapi jiwanya bebas dan merdeka, karena jiwanya terbebaskan dari perbudakan hasrat-hasrat rendah.

Di dalam al-Qur’an yang mulia, Nabi Yusuf as berkata, ”Rabbis sijnu ahabbu ilayya mimma yad’uu nanii ilaihi – Tuhan…penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan (hawa nafsu) mereka kepadaku” (QS Yusuf [12] ayat 33)

Dengan kata lain Yusuf mengatakan, “Lebih baik aku dipenjara secara fisik ketimbang jiwaku terpenjara nafsu!” 8]

Bahaya terbesar di masa kita ini adalah kita cenderung memerhatikan serta membatasi kemerdekaan sebatas kemerdekaan fisik atau sosial politik, namun melupakan kemerdekaan jiwa dan spiritual. Padahal mengabaikan kemerdekaan spiritual mengakibatkan kemerdekaan fisik pun tidak dapat terpelihara.

Jenis manusia yang keempat adalah manusia yang merdeka baik fisik mau pun jiwanya. Dan contoh untuk jenis manusia keempat ini adalah al-Hurr

Seperti Nabi Musa as, ketika belum diangkat menjadi seorang Rasul, beliau adalah putera mahkota Fir’aun, Raja Mesir, yang memperbudak bangsa Bani Israel yang merupakan ras Musa as sendiri. Musa as yang sejak kecil diangkat sebagai anak oleh Fir’aun memiliki jiwa yang merdeka.

Pembelaan beliau kepada Bani Israel bukanlah didasarkan kepada pola pikir rasialisme. Musa as membela Bani Israel semata-mata karena pembelaannya kepada keadilan dan kaum tertindas. Tanpa ragu Musa as menanggalkan segala atribut kebesaran dan kemewahan termasuk mahkota kepangeranannya demi menegakkan kebenaran dan memerdekakan kaum yang tertindas. Saat itulah Musa as memperoleh kemerdekaan yang paling sempurna.

Seperti Nabi Musa as, demi memperoleh kemerdekaan spiritual, al-Hurr juga rela menanggalkan atribut kepanglimaannya dan impian-impian duniawinya yang dijanjikan Ibn Ziyad kepadanya.

Ini bukan soal mudah! Tidak mudah menukar impian-impian personal kita dengan sebuah KEMATIAN! Hanya orang-orang luar biasa (extra ordinary people) saja yang mampu melakukannya.

Sama seperti seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah saww seraya berkata, ”Kami telah beriman!”. Rasulullah Saw menolak pernyataannya seraya menghibur lelaki ini, “Orang-orang yang benar-benar beriman adalah mereka yang memiliki iman sekeras baja, mereka telah mampu berhijrah dari ego-ego personal mereka dan berjihad melumpuhkan musuh yang ada di dalam mau pun di luar dirinya. Akan tetapi jika Anda taat kepada Allah dan Rasul-Nya, itu sudah memadai” 9].

Sekali lagi tidak mudah menjadi orang Syi’ah sama tidak mudahnya menjadi orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Kepada Nabi Musa as Allah SwT berfirman, ”Wash thana’tuka linafsi! – Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku!” (QS 20 : 41)

Di hadapan jenazah al-Hurr, Imam Husain dengan penuh kasih mengusap wajahnya yang bersimbah darah seraya berkata, ”Tidak salah ibumu menamaimu al-Hurr, sebab engkau merdeka (al-Hurr) di dunia dan di akhirat”

Al-Hurr syahid setelah berhasil membunuh 80 pasukan berkuda, prajurit-prajurit musuh takut mendekatinya. Umar bin Sa’ad memerintahkan pasukan pemanah untuk mengepung al-Hurr dari segala penjuru dan secara bersamaan melepaskan anak panah ke sekujur tubuh al-Hurr. Al-Hurr pun jatuh tersungkur dan syahid. 10]

Mampukah kita membebaskan diri kita dari belenggu-belenggu cinta diri dan cinta dunia seperti al-Hurr dan Zuhair? Yang menarik, menurut saya, kemungkinan besar keduanya tidak sempat melakukan amalan-amalan Syiah seperti kaum Syiah di Kufah.

Ini berbeda dengan lelaki paling durjana, Syimr, karena sedemikian yang menginginkan harta dan kedudukan duniawi, dia rela menukarkan keyakinannya.

Anda tentu mengenal Syimr bin Dzi al-Jauysan? Saya pikir tak seorang Syi’ah pun yang tidak mengenal orang yang paling buruk yang pernah diciptakan Tuhan seperti lelaki ini? Sebagian orang mungkin tidak percaya bahwa Syimr pernah dengan setia turut serta berperang bersama Imam Ali as di pertempuran Jamal dan Shiffin, tapi catatan sejarah telah mencatat nama orang ini berada di pihak Imam Ali as. pada kedua pertempuran tersebut 11]

Anda juga tentu masih ingat bahwa di antara 12 ribu atau 18 ribu orang penduduk Kufah yang berbaiat kepada Imam Husain as ada seseorang yang bernama al-Mukhtar al-Tsaqafi, seorang Syi’ah yang sempat ber-taqiyyah - mengelak mengakui – di hadapan Ubaidillah ibn Ziyad, bahwa ia salah seorang pendukung Muslim bin Aqil. 12]

Terlepas dari Mukhtar yang akhirnya bertaubat dan membunuh para pembunuh Imam Husain as, namun harus diingat bahwa sebelumnya ia sempat terperosok ke lembah ‘pengkhianatan’. Memang bukan perkara mudah menjadi seorang Syi’ah Ali sebagaimana tidak mudah pula menjadi seorang yang beriman.

Jika al-Qur’an yang mulia mengatakan, ”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ”Kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum kamu, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar (shadaquu) dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta (al-kaadzibiin)!” (QS 29 : 2-3).

Maka di dalam sebuah hadits yang dicatat oleh ‘Allamah Baqir al-Majlisi (qs) di dalam kitabnya Bihar al-Anwar bahwa : Ketika para sahabat Imam Muhamad al-Baqir as sedang duduk bersama beliau, datanglah seorang lelaki seraya berkata kepada Imam al-Baqir as, “Demi Allah! Sesungguhnya aku mencintai kalian Ahlul Bait!” Imam as menjawab, ”Jika demikian, kenakanlah musibah sebagai jubahmu! Demi Allah! Sesungguhnya cobaan (bala’) itu benar-benar lebih cepat datangnya kepada kami (Ahlul Bait) dan pengikut kami ketimbang meluncurnya air bah ke dasar lembah. Kamilah (Ahlul Bait) yang pertama kali yang akan ditimpa musibah baru kemudian kalian. Kamilah yang pertama kali memperoleh kesenangan hidup (di akhirat) baru kemudian kalian!” 13]

Dalam riwayat lainnya, Imam Ja’far al-Shadiq as menceritakan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib as, “Demi Allah! Sesungguhnya aku benar-benar mencintai Anda!” (Laki-laki ini mengatakannya 3 kali kepada Imam) Namun setelah itu Imam Ali as justru berkata kepadanya, “Demi Allah! Engkau tidak mencintaiku!”

Mendengar hal ini marahlah laki-laki ini seraya berujar, “Anda mengatakan demikian, demi Allah, seolah-olah Anda mengetahui apa yang ada di dalam hatiku!?” Imam Ali as menjawab, “Allah telah menciptakan ruh-ruh (arwah) sebelum badan-badan (ini) 1000 tahun namun tidak kulihat ruhmu di sana!” 14]

Dan penghulu para syuhada pun, Imam Husein as mengatakan, ”(Kebanyakan) Manusia ini adalah hamba (budak) dunia, dan agama hanya menjadi buah bibir mereka. Mereka akan menjaganya selama agama mendatangkan manfaat bagi mereka. Tetapi apabila mereka diuji (akan terbukti) hanya sedikit orang-orang yang benar-benar beragama” 15]

Saya pernah mendengar dari Ustadz saya yang saya cintai, al-Ustadz Ahmad Rusydi Alaydrus (semoga Allah senantiasa merahmati dan menyayanginya) bahwa pada masa Revolusi Islam di Iran, seorang alim Syiah mati disiksa dengan lubang dikeningnya karena dibor (disiksa) oleh SAVAK, agen rahasia Shah Iran. Sebelum jenazah sang alim ini dimakamkan, Imam Khoimeini (qs) berkhotbah tentang sang alim ini hanya dengan beberapa patah kata, “Jika anda ingin tahu orang Syiah, saksikanlah bahwa dia inilah orang SYIAH!”

Laa hawla wa laa quwwata illa billah!

Catatan

Salah satu tujuan tulisan ini adalah membantah para pembenci Syiah yang menyebarkan syiar jahat bahwa para pembunuh Imam Husain as adalah orang-orang Syiah sendiri.

Catatan Kaki
1. Asghar Ali Engineer, Values, Not Rituals Are Essence Of Religion, sebuah artikel yang dibuatnya pada bulan Juni 2001 di Web Site : Progressif Dawoodi Bohras.

2. HMH. Al-Hamid al-Husaini, Al-Husain bin Ali Pahlawan Besar, h. 276, CV. Toha Putera, 1984. Lihat juga Musa Shadr, Syuhada Padang Karbala, h. 76, Penerbit Mizan Februari 1996.

3. Muhsin Labib, Husain Sang Ksatria Langit, masih dalam draft sebelum dicetak dan diberi pengantar oleh almarhum Motinggo Busye, hal. 93.

4. Musa Shadr, ibid h. 39

5. Muhsin Labib, Ibid h. 101.

6. Thomas Szasz, The Second Sin, Chapter Personal Conduct, 197

7. Tafsir Nur al-Tsaqalain 2 : 423.

8. Murtadha Muthahhari, Jejak Jejak Ruhani, hal. 20, Penerbit Pustaka Hidayah

9. QS 49 : 15-16

10. Musa Shadr, ibid h. 147.

11. Al-Khatib Syekh Abdul Wahab Al-Kasyi, Asyura Dalam Perspektif Islam, h. 126, Penerbit Yayasan Islam al-Baqir, Cet. I , Januari 1996.

12. Muhsin Labib, ibid h. 46

13. ‘Allamah Baqir al-Majlisi, Bihar al-Anwar 46 : 360, Jami’ al-Ahadits.

14. Ibid, Bihar al-Anwar 61 : 132.

15. Tuhaf al-’Uqul hal. 245


Dikutip dari Quito R. Mottinggo