Pages

Monday, January 9, 2012

Mengenal Salah Satu Aliran Dalam Islam

Thaufan Malaka

Dosen Universitas Andalas

Tulisan singkat ini dimaksudkan untuk menengahi mispersepsi berujung konflik antara Syiah-Sunni di Sampang, Madura, pada tanggal 29 November 2011. Secara intelektual kita seharusnya tak perlu takut dengan Syiah dan sebaiknya setiap muslim Indonesia membaca referensi Syiah yang benar agar dapat lebih memahami perbedaan perspektif untuk membangun silaturahmi keagamaan.

Siapa Syiah? Sesungguhnya muslim Indonesia tak terlalu tepat untuk menjelaskan Syiah sebab muslim Indonesia lahir dan belajar Islam sejak kecil dalam tradisi Syafi’i berteologi Asy’ari-Maturidi. Namun, sebagai upaya intelektual untuk mencapai kesadaran multikultural, siapa pun muslim di Indonesia yang kritis harus terpanggil untuk memberitakan dan mewacanakan Syiah sebagai korban kekerasan di Madura.

Syiah lebih lazim dikenal sebagai Ahlulbait yang mengacu kepada supremasi Keluarga Rasulullah Muhammad SAWW yang meyakini Islam dari perspektif Tauhid, Keadilan Illahi, Kenabian (Nubuwah-red), Kepemimpinan (Imamah-red), dan Hari Akhir (Eskatologi-red). Sejatinya, Syiah hanyalah salah satu perspektif dalam mengenali kejernihan Islam di antara beberapa perspektif lain, misalnya enam mazhab lainnya yaitu Syafii, Maliki, Hambali, Hanafi, Ibadi, dan Zahiri.

Pandangan saya didasarkan pada beberapa literatur asli Syiah, dan dialog yang pernah dilakukan dengan salah seorang penganut Syiah dari Iran. Syiah adalah perspektif Islam yang dinamis, rasional, dan politis. Dinamis dalam arti Syiah masih membuka pintu Ijtihad (bagi yang berhak berijtihad) dan sangat ketat dalam memegang prinsip Fikih Islam.

Dinamika ini membuat Syiah mampu melahirkan pakar-pakar Islam dari model pendidikan unik-tradisional-modern di berbagai bidang misalnya Filsafat, Teologi, Fikih, Hadis, dan Tafsir pada zaman sekarang. Silakan Anda berkunjung ke salah satu kota pendidikan bernama Qom di Iran maka Anda akan mendapatkan ratusan bahkan mungkin ribuan pakar dan calon pakar di bidang keilmuan Islam.

Revolusi Islam di Iran oleh Pemimpin Kharismatik Ayatullah Ruhullah Khomeini pada tahun 1979 hanya memantapkan Syiah di pentas politik modern, tetapi tradisi keilmuan Syiah sudah terbangun sejak beberapa abad yang silam.

Rasional maknanya Syiah dalam memahami Islam sangat memuliakan akal sebagaimana akal dalam perspektif para filsuf Islam misalnya Alkindi, Alfarabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina tempat akal adalah cahaya yang menerangi kegelapan. Sebagai misal, Syiah dalam memahami hukum Islam di zaman modern, para ahli hukum Islamnya yang dikenal sebagai Marja' menetapkan hukum secara rasional didasarkan Ilmu Keislaman yang luas, yang dipelajarinya hampir di sepanjang hidupnya.

Politis maksudnya Syiah sangat menyadari nalar sejarah manusia sebagai pentas politik antara Kebenaran (Alhaq) versus Kebatilan (Albatil) sehingga penganut Syiah memperjelas posisi keislamannya di pihak kebenaran untuk melawan kebatilan dan variannya. Dalam tiga dimensi ini, Syiah akan diterima oleh manusia hanif manapun dari perspektif Islam apapun.

Lantas kenapa Syiah di Indonesia dibenci dan dianggap sesat bahkan di Madura baru-baru ini salah satu pesantren Syiah dibakar? Pertanyaan ini bisa dijawab begini: pertama, Syiah memiliki nalar yang dinamis yang berbeda dengan nalar kebanyakan muslim Indonesia yang beraliran Fikih Syafi'i berteologi Asy'ari-Maturidi.

Jika ada muslim Syafi'i berteologi Asy'ari-Maturidi yang reformis-kritis berarti mereka generasi protestan muslim di Indonesia. Mereka boleh jadi membaca Filsafat Barat ala Marx-Foucault, menelaah pemikiran Islam kontemporer ala Abid Al Jabiri, Arkoun, Hassan Hanafi, atau bergabung dengan Gerakan Islam Internasional misalnya Ikhwanulmuslimin yang menjelmakan PKS/KAMMI atau Hizbuttahrir dsb.

Kedua, Syiah itu Rasional yang meninjau ulang asumsi-asumsi kebenaran teori keislaman. Asumsi ini pula meniscayakan Syiah menjadikan Keluarga Nabi (Ahlulbait) sebagai pemegang titah Islam absolut. Tentu saja, Islam itu kebenaran yang absolut secara doktrinal tetapi cara memahami Islam sangat relatif bagi muslim umumnya sehingga meniscayakan adanya Nabi (Kenabian) dan adanya Pemimpin Suci (Imamah) untuk menjelaskan absolutisme kebenaran Islam bagi yang meyakini.

Misalnya kebenaran Islam yang sejati harus diterima dari tangan yang suci sebab jika diterima dari tangan yang munafik walaupun hanya sebesar zarrah maka kebenaran Islam diragukan.

Ketiga, Syiah itu politis sehingga setiap kebatilan dalam semua wajahnya, apakah dalam bentuk manusia atau cara pandang yang zalim akan menjadi musuhnya. Hal ini juga untuk menjelaskan karakter Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad yang berpaham Syiah dalam menentang arogansi Amerika yang mengambil spirit dari simbol tertinggi politik Syiah yaitu Kesyahidan Imam Hussein (cucu nabi anak Ali-Fatimah yang menjadi Imam ke-4 dalam perspektif Syiah) yang menjemput kematiannya untuk menegakkan kebenaran hakiki politik dalam melawan kezaliman yang menjadi ingatan sejarah penganut Syiah sepanjang masa.

Keempat, Konflik Syiah-Sunni di Indonesia bisa dijelaskan sebagai kompetisi ekonomi-politik untuk memperebutkan supremasi simbol, sumber daya politik dan ekonomi. Jadi, isu kebenaran itu nomor dua. Tak lebih tak kurang.

Akhirnya, kondisi di atas hanya dapat dieliminir dengan dengan dialog dan komunikasi lintas mazhab yang diinisiasi oleh kalangaan reformis dan moderat dari kedua belah pihak, baik Sunni maupun Syiah untuk menjaga silaturahim antar mazhab dan penghargaan kemanusiaan.

Manusia muslim di Indonesia seharusnya tak usah resah dengan perspektif Islam yang beragam, justru itu adalah kekuatan Islam sebagai salah satu mata air pengetahuan dan kebijaksanaan hidup untuk semua manusia.


Dikutip dari Thaufan Malaka dengan sedikit perubahan.


No comments: